&t /// JELAJAH BELANTARA ///: Intuisi, Tidak Lagi Entahlah.

Thursday, February 17, 2005

Intuisi, Tidak Lagi Entahlah.

Mari sejenak bicara tentang intuisi. Mari kita menghadirkan sewujud
perbekalan alami manusia sepanjang hidupnya, dimana manifestasi
dalam ruang dan riwayat manapun tetap kokoh, tidak terfragmentasi
maupun terkikis. Dia berlaku representatif terhadap pertanda
(signage) karena dia bukan wujud yang merujuk pada diri sendiri
(self-reference). Ada beberapa pintu dimana kita bisa melangkahkan
kaki menuju pemahaman akan intuisi, dan kali ini saya memilih pintu
idealisme transendentalis.

Katakanlah intuisi dengan insting merupakan sinonim,
bahwa semua intuisi kita tidak lain hanyalah representasi atas
penampakan (singular maupun plural events); bahwa sesuatu yang
kita intuisikan bukanlah sesuatu itu sendiri yang kita intuisi
sebagai ada, dan hubungan antara keduanya juga tidak tercipta
dalam diri mereka sendiri sebagaimana tampak (appearance)
pada kita, dan bahwa jika subjek, atau bahkan hanya konstitusi
subjektif indrawi secara umum dihilangkan, seluruh konstitusi dan
semua hubungan di antara objek dalam ruang dan waktu,
bahkan ruang dan waktu itu sendiri, akan hilang (dissapear).
Sebagai penampakan, mereka tidak bisa eksis dalam dirinya sendiri,
melainkan hanya dalam diri kita. Sedangkan apapun objek
yang mungkin ada dalam dirinya sendiri, dan terpisah dari
semua bentuk penerimaan kemampuan kita dalam menyadari,
sepenuhnya tidak kita ketahui.

Terdapat hubungan kausalitas dan alamiah antara intuisi dengan
pencerapan terhadap citra, baik rupa fisik ataupun persepsi
wujud aural yang bernilai historis dari ruang riwayat hidup individu.
Beberapa rekan saya, Yudi, Bertie, Mbah Kere, mengenal konsep
ini dengan baik. Pencerapan yang demikian tidak berarti
mengandung korelasi yang erat, mengingat intusi sendiri akan
bergerak sefaham menopang pengetahuan, dimana pengetahuan
itu sendiri tersusun atas pencerapan segala sesuatu
yang terpikirkan.

Sifat yang kita miliki tertata sedemikian rupa sehingga intuisi kita
tidak mungkin memiliki bentuk lain kecuali sebagai sesuatu yang
mampu menyadari; dengan demikian, ia hanya memiliki satu cara
yang dengannya kita terpengaruhi oleh objek-objek. Di lain pihak,
kemampuan yang memungkinkan kita untuk berpikir tentang
objek-objek yang bisa disadari oleh intuisi adalah pemahaman.
Tidak ada salah satu dari dua kemampuan itu yang lebih utama
daripada yang lain. Tanpa kemampuan menyadari, tidak ada objek
yang bisa kita tangkap, tanpa pemahaman, tidak ada objek
yang bisa kita pikirkan.

"“Thoughts without content [are] empty,
and intuitions without concepts [are] blind.”
-Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, 1781

Dengan demikian, adalah sesuatu yang perlu untuk menjadikan
konsep-konsep kita bisa disadari, yakni dengan menambahkan
objek ke dalam konsep-konsep dalam intuisi, sehingga menjadikan
intuisi kita bisa dipahami, yakni dengan memasukkan intuisi
ke dalam konsep. Membingungkan? Coba mengambil alur tersingkat
alias yang paling sederhana. Kedua kekuatan dan kemampuan ini
tidak bisa bertukar fungsi.Pemahaman tidak bisa mengintuisikan
apa pun, indra tidak bisa berpikir. Hanya melalui kesatuan antara
keduanyalah pengetahuan bisa diperoleh.

Di samping intuisi indrawi yang dengan sesuatu disadari adanya,
semua pengalaman juga memiliki konsep tentang suatu objek
sebagai sesuatu yang ada begitu saja, yakni sebagai sesuatu
yang menampakkan diri. Dengan demikian, konsep-konsep
tentang objek secara umum mendasari semua pengetahuan
empiris sebagai syarat a priori-nya. Jadi, validitas objektif
berbagai kategori sebagai konsep-konsep a priori terletak
pada fakta bahwa, sejauh berkaitan dengan bentuk pemikiran,
hanya melalui konsep-konsep itu pengalaman menjadi mungkin.
Konsep-konsep itu menghubungkan keniscayaan dan a priori
dengan objek-objek pengalaman, dengan alasan bahawa hanya
melalui merekalah sembarang objek pengalaman bisa dipikirkan.

Kajian metafisika, yang mempelajari secara filosofis akan
perwujudan dan pemahaman, tidak mungkin terlewat begitu saja.
Kehadiran citra, baik realitas dan hiperealitas, telah mampu
membangkitkan wilayah pengalaman terhadap objek-objek
di dalamnya, sejak pengalaman Nabi Adam A.S di surga hingga
kehidupan zaman jahiliyah posmodern yang serba paradoksal ini.



Seyogyanya penajaman intuisi mampu mengarah ke usaha kreatif
untuk bertahan dan berinovasi. Sebagai gambaran, intuisi akan
mengupayakan jalan yang harus dilalui, bersama dengan indera
membubuhkan daftar situasi dan konsekuensinya. Dan jika lebih
jauh lagi dalam amplifikasinya, intuisi dapat menjelma menjadi
Extra Sensory Perception, seperti yang dimiliki para cenayang.
Sebuah cabang yang lebih bersifat post-spiritual sehingga saya
tidak akan buang waktu untuk membahasnya.

Moralitas dalam intuisi terbentuk dari pemahaman.
Dan pemahaman bisa ada dua, katakanlah, arus kiri dan
arus kanan. Keduanya pada prosesnya membentuk evolusi moral
sang individu. Sama ketika Neo harus memilih antara pil merah
atau pil biru.

(Immanuel Kant rules! Juga makasih buat Mbah Kere Kemplu
atas pinjaman istilahnya, walau tanpa seizin redaksi :P...
Dan maafkanlah eklektisisme!)


3 Thoughts You Share:

Blogger wahyudi pratama said...

Intuisi bukan harus di maknakan ulang lagi ...

btw, emang jahiliyah gitu posmo ???

Fri Feb 18, 11:27:00 AM  
Anonymous Anonymous said...

gue pusing baca postingan lo. nonton i love huckabees deh,kayaknya cocok.Ato Eternal sunshine.

Fri Feb 18, 04:18:00 PM  
Blogger Lelaki Liar said...

Thx udah mampir, blognya keren buat asah2 otak, tobbb.

Fri Feb 25, 08:09:00 PM  

Post a Comment

<< Home