&t /// JELAJAH BELANTARA ///: Constant Aggression to Keep Children Stupid.

Sunday, February 06, 2005

Constant Aggression to Keep Children Stupid.

Sibuk menuntut hak. Itu yang sering terlintas dari peristiwa
kediktatoran tugas negara. Merampas hak orang bagi saya sangatlah
tidak termaafkan!

Konsep akademis dalam urusan pembuatan anak pintar lalu menjadi
manusia cerdas bisa menjadi isu utama keinginan sebagian kita,
yang disisakan dari sebagian gelintir orang salah yang membenarkan
polah menjarah hak saya-ingin-pintar anak-anak. Dan lihat,
mereka ini anak kita, putera kandung bumi Indonesia.
Sama saja membunuh mereka tanpa sebab yang transparan.
Bukan lagi menjadi kelinci percobaan, bahkan kadang sudah terlahir
berstatus korban. Ya! Jelas korban pembantaian besar
dunia pendidikan! Pengungsi dari surga. (Pengetahuan itu indah,
percayalah!).



Anak Indonesia adalah anak-anak kita. Alasan apalagi yang ingin
diutarakan wahai para pengecut, untuk sekedar menghempaskan
sekali lagi mimpi-mimpi luhur anak-anak itu? Kurikulum yang
diperbaharui atau stereotip saja agaknya, menjadi ulasan umum
untuk sekedar perpanjangan tangan arogansi pengecut dalam arus
pendidikan, di negara ini. Dan guru sebenarnya juga korban.
Dengan tugas khususnya mendidik akan seringkali ditemui terdistorsi,
dengan urusan perut. Anggaran pendidikan terkucur sedemikian pelit
untuk pendidikan yang sangat mahal. Ya! Bahkan untuk membeli
beras pun harus merogoh saku anak didiknya untuk memaksakan
membeli buku pelajaran yang seharusnya tidak dijual.
Sesuatu yang sangat mahal, yang sebenarnya bisa dipermurah
dengan menambah pundi-pundi celengan tiap guru yang
'seharusnya tulus'. Di sini jelaslah praktek kapitalisme bermain
dengan riangnya membius setiap jengkal akar-akar kehidupan
yang menghidupi pohon pendidikan. Tuh kan, bukan saja
wajah modernisme yang berjerawat, di dalamnya pendidikan
Indonesia juga carut-marut. Distorsi semiotika pendidikan.
Fakta sosialnya demikian adanya. Kita ini yang sekolah tuh otaknya,
bukan uang sakunya!

Kasus Ujian Nasional yang akan diadakan Mei 2005 nanti alih-alih
menjadi pemubaziran anggaran saja (Kompas, 28 Januari 2005).
Mending dialokasikan ke pendidikan yang bermutu dan mengurangi
disparitas kualitas akademis. Semisal menggratiskan jalur
pendidikan dasar, atau bebaskan uang buku, atau bikin sekolah
untuk korban tsunami Aceh. Berat ya? Memang.
Namun selalu ada solusi yang harus diperjuangkan.
Agaknya tiap oknum pemerintah masing-masing berlomba
menceburkan diri dalam alegori mikrofasisme. Tak bisa kah mereka
mengartikan makna yang benar dan mana yang salah?

Pasti banyak yang bilang ini akal-akalan institusi pengelola
negara saja, yang bertele-tele (kronis sekali!) mengurus pendidikan.
Bukannya menyembuhkan penyakit, ini yang terjadi malah menutup
gejalanya saja. Symptom apapun akan sangat mungkin berlanjut
ke stadium menjadi penyakit.

Seorang anak kecil, anak kita, ibarat harddisk yang masih longgar
free space-nya, bahkan sebagian belum selesai terformat,
adalah rahim dari segala bentuk intelektualitas manusia.
Dibawanya nanti semua pengetahuan itu hingga akhir hayatnya.
Berguna atau tidak, pengetahuan itu bakal menuntun dia berjalan
ke segala penjuru mata angin. Dan saya tegaskan lagi itu semua
jenis intelektualitas, bukan hanya nilai 9 matematika di rapor
mereka yang membanggakan itu. Membanggakan guru dan
institusi kesekolahannya, parameter kepintaran macam apa itu?!.
Dan ironisnya orang tuapun senang jika anaknya masuk sepuluh
besar, paling tidak sekolah lah. Atau juara cerdas cermat
ilmu-ilmu eksak dengan tambahan hafal kepanjangan dari
ipoleksosbudhankamnas. Wakakaka! Dan lucunya,
dalam tataran SMA dimana penjurusan mulai ada, yang kebagian
A3 (Sosial) atau A4 (Bahasa)--maaf ini merujuk zaman saya mbeling
saat sekolah dulu--tidak mendapat porsi perhatian lebih.
Guru lebih suka muridnya jago menghitung derajat panas,
bukan mendidik tenggang rasa. Anak didik lebih terkesan kehebatan
angka-angka, daripada tajamnya kata-kata. Yang pandai main band
dianggap urakan. Tapi yang bisa berorganisasi dimentahkan
begitu saja. Ujung-ujungnya nih, yang lulus jadi insinyur dielu-elukan.
Namun yang mati-matian menyelesaikan jenjang Seni dilecehkan.
Yang kerja dikantoran dianggap hebat. Tapi yang berprestasi
di sektor olahraga dilupakan. Dan anak tiripun bakal kelihatan
di mana-mana, bahkan di antara teman-teman kita sendiri.
Semacam elongasi yang sangat lebar. Bukan faktor pilihan saya rasa,
namun banyak faktor x yang fatalis terhadap pilihan itu. Menyedihkan.
Dulu, dosen saya pun lebih penting berproyek ria daripada mengasuh
mahasiswanya. Begitulah, banyak yang bisa mengajar
namun belum tentu bisa mendidik. Banyak yang pintar
namun jarang sekali yang bijaksana.

Padahal, diversifikasi intelektualitas manusia kalo bisa dihargai,
akan berkembang ke muara yang banyak ikannya, memberi
kehidupan pada semua apa yang hidup di dalam muara itu.
Nah kalo pernghargaannya timpang, bisa jadi akan lebih banyak
Dr. Jackyll & Mrs. Hyde di luar sana, di sekeliling kita,
yaitu orang-orang yang frustasi akan kemampuan dirinya sendiri,
yang mengandalkan kekerasan, produk kegamangan sosialnya.
Autistik (baca=sifat autisme) yang tak berkesudahan.

"Berhadapan dengan dunia objek yang semakin complicated,
anak-anak hanya (dikondisikan) untuk mengidentifikasi diri mereka
sebagai pemilik, sebagai pemakai, tidak sebagai pencipta;
ia tidak menemukan dunia, ia hanya menggunakan dunia yang
dirancang untuk mereka, tak ada pengembaraan, tak ada
keajaiban (wonder), tak ada keriangan. Ia hanya menjadi pengguna
yang tidak harus menemukan sebab-akibat; mereka hanya
disuguhkan ready-made... mereka tidak diberi peluang untuk
menemukan sesuatu dari permulaan sampai selesai."
(Roland Barthes; Mythologies)

Seperti kata rekan saya pencinta warna biru: anak kecil memang
lucu, dan akan tetap menyenangkan sampai mereka dewasa
jika kapasitas mereka tetap dihargai. Bukan begitu?

Pada akhirnya kalo toh memang terlalu keras tembok kegilaan
orang-orang pemerintahan, jalur alternatif bisa menjadi pilihan.
Paling tidak institusi macam Masyarakat Peduli Pendidikan
Indonesia
atau Lembaga Advokasi Pendidikan (LAP)
musti lebih merapatkan barisan, persiapkan segala sesuatunya.
Saya masih percaya bahwa pendidikan masih menjadi diskursus
utama dalam mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Mosok saya sendirian yang musti mengasah pedang dan
membunyikan genderang 'perang'?

Mari berjuang untuk blue-print otak yang lebih baik!

---

Minutes seem like days
Corrosion fills the sky
Morbid dreams of anarchy
Brought judgement in disguise
Memories linger in my brain
Life with nothing more to gain
Perpetual madness remains
-SLAYER, "Skeletons of Society", Season in the Abyss, 1990

0 Thoughts You Share:

Post a Comment

<< Home