&t /// JELAJAH BELANTARA ///: Kerenisasi Radikalisme.

Monday, February 07, 2005

Kerenisasi Radikalisme.

Minggu sore tadi , sepulang meregangkan otot di genangan air
sekolam di Senayan, saya meluncur (cieh...emang roket?)
ke daratan Blok M, sekedar membeli cacing buat makan ikan dan
sebotol Albothyl peredam sariawan. Melewati bawah jembatan
penyeberangan depan Plasa Blok M, saya tertegun sejenak
dengan kehadiran 2 los kaki lima penjual kaos. Tapi ini luar
biasa. Kaos-kaos yang dijual ini sangat provokatif sekali.
Beragam macam tulisannya. Sepintas saya lihat mungkin ada
sekitar jenis anti-kemapanan, plesetan, dan pornografi yang
dipampang, dan semuanya ancur lebur, menyatu bersama
kaos-kaos underground lainnya. Kalo yang jenis anti-sosial
semisal plesetan logo Coca Cola atau Starbucks,
saya tentu akan sependapat.

Saya pernah bikin juga, tapi yang ini sangat hantam-kromo,
baik dari segi visual maupun linguistiknya.
Terutama yang
melihat adalah kacamata awam, publik kebanyakan.
Beberapa kayaknya bikinan sendiri, tapi kebanyakan ide ngambil
dari situs-situs jualan kaos di seberang negeri.
Mending situ liat sendiri aja, barangkali tertarik membeli dan
menyenangkan penjualnya.
Saya akhirnya bertanya, apakah radikalisme sedemikian
memang tidak tabu lagi? Mengkerdilkan arti offensivity dan
censorship, sarkasme semantik sehingga memperkeruh
wacana semiotika sosial dan tatanan kultur terutama
masyarakat Jakarta? Padahal di luar negeri sana juga
katanya masih tabu. Nah inilah yang (ironisnya )dianggap keren.
Cool like they said.



T-shirt really talks. You are what you wear.

Bisa jadi yang beli bukan hanya orang Jakarte, dan
yang dari luar DKI bisa membawanya pulang, memakainya
di daerahnya, dan tersebarlah globalisasi radikalisme kota
ke desa. Radikalisme masuk desa.

(keren juga sih, tapi untuk apa? satu-satunya alasan saya
tidak membelinya adalah kualitas sablonannya runyam dan
tidak terkomposisi secara estetis... Hahaha)

+worth-visiting www.tshirthell.com

3 Thoughts You Share:

Blogger kéré kêmplu said...

di sebuah "pasar desa", lima tahun lalu, saya pernah menjumpai kaos bergambar che guevara lagi pidato. ajaib juga. kata yang jual, "ini keren mas." siapa che, saya tanya. dia cuma cengar-cengir. temannya bilang, "itu gambarnya rage against the machine." kebetulan toko itu memang jual kaos bertema musik. gambar marley? banyak. apa itu rastafarianisme, gak penting. marley adalah cimeng, itu aja. saya nggak tahu apakah nanti ada kaos bergambar dom helder camara atau ivan illich. atau semaun dan darsono dari "s.i. merah"

Mon Feb 07, 02:28:00 PM  
Blogger wahyudi pratama said...

benar You Are What You Wear ...

makanya terlihat sekali kok perbedaan dan sudut pandang seseorang bisa jadi terbentuk gara gara cuma sekedar kaos yang di pakainya ....Lihat deh kaum muda di bandung yang dahulu menggunakan kaos factory Outlet sekarang meludahi habis habisan dan lebih bangga menggunakan kaos kaos dari Distro Pasaran made in rekan sejawat yang berjibun di bandung dengan label " Keminggris" nya yang merupakan sintesa pergerakan kultur yang ingin mengglobal .... bandingkan seorang anak muda di bandung yang doyan nonton gig di konser konser band band indei dengan slanker di daerah Cimahi dalam menonton konser ...dulu sih Che Guevara musim, sekarang wahhhh hareee geneeee ??? ..lebih kereen Benyamin dan 70's look-a-like alias garage rock . . . saya juga sama halnyaa lebih suka beli Kaos KOIL dan Burgerkill di bandingkan beli kaos Dewa dan kaos kaos produksi C-59 ..males beybeh ....

dan sekali lagi selera ....yang di bentuk oleh lingkungan dan wawasan ....+ pingin gak jadi hip hehehehehehe aahhhhhh asik aahhhhh

Mon Feb 07, 06:45:00 PM  
Blogger / n i k k / said...

Yang musti diingat ya harusnya semakin tua semakin bijak dalam memilih apa yang akan dipakai. Bagaimanapun kita harus selektif. Jika memang terjadi titik tolak terhadap budaya pop alias popular hipness seharusnya orang-orang macam Umberto Eco atau Paul Bowman lebih banyak mengeluarkan statement buah pikirnya, bukan malah diam saja menjadi komoditi untuk ditempel di, katakanlah, kaos. Jangan-jangan nggak peduli wajah mereka cocok apa tidak buat dipasang di kaos, orang semena2 memproduksinya, berharap orang melihat dan mengakui secara dangkal bahwa si pemakai adalah kaum intelek. Bah! Gak malu! Tes saja mereka dengan menanyakan arti kata "pseudomanifestation"...

Mon Feb 07, 07:00:00 PM  

Post a Comment

<< Home