&t /// JELAJAH BELANTARA ///: Gadis Tercantik itu Bernama Fatamorgana.

Saturday, February 26, 2005

Gadis Tercantik itu Bernama Fatamorgana.

Saya geli ketika suatu pagi menyaksikan iklan lucu produk mie instan
(walau saya sering mengkonsumsinya, tapi saya tak sudi menyebut
mereknya di sini!... naif memang!:P) yang membanggakan sebuah
pencapaian 'prestasi', yaitu membuat mie terbesar dan akhirnya
masuk Museum Rekor Indonesia dan Guinness Book of Records.
Ah! Ilusi macam apalagi ini?



Sejujurnya, secara semiotis ini masalah bagi saya.
Namun kasus seperti ini kerap kali saya temukan di dekat-dekat
saya juga, seperti membuat ketupat terbesar atau roti tertinggi.
Nah, saya awalnya sih bingung harus memasukkannya ke dalam
wacana mana, mengingat terjadi kemunculan dua kubu makna.
Di satu sisi, ungkapan superlatif seperti ini merupakan usaha
manusia dalam membuktikan kekuatannya yang dimanifestasikan
lewat sebuah prestasi, tentunya akan saya hargai kerja kerasnya.
Memilih kata sifat dengan awalan "ter..." atau "paling..."
telah menjadikan kerancuan pikir kita, sejak dahulu.
Dan kanal ini sangat mungkin terjadi lalu lintas hasrat (desire)
yang bebas, mengikuti arus kapital yang tidak penah diam.
Lebih terperosok lagi, ia selalu mencari pelepasan-pelepasan baru,
mengikuti pemujaan-pemujaan baru seperti dalam konsep
mesin hasrat Guattari. Hasrat selalu menggiring manusia ke dalam
apa yang dikatakan di dalam terminologi psikoanalisis sebagai
the culture of narcisism, yaitu manusia yang selalu mencari
ketenaran, popularitas, publisitas, dengan segala sensasinya.

Ketika di sandingkan ungkapan "gedung tertinggi", "manusia
terkuat", "bahkan banci tercantik", dengan prestasi seperti
"murid terpandai", "lulusan terbaik", "band legendaris",
"pelukis terkenal", "aktris terbaik", "film terbaik", "kecerdasan
Einstein", "kreativitas Leonardo da Vinci", "kenegarawanan
Kennedy", akan menjadi kentara filosofisnya. Atau seperti kata
M seorang karakter dalam film THE INCREDIBLES yang menohok
makna kata supermodel....bener juga sih, apanya yang super coba?
Penyebaran struktur histeria semacam ini dalam kebudayaan
akan memunculkan narasi betapa pentingnya sebuah kronologis
pembuktian diri. Saya katakan kronologis karena sebuah proses
sebenarnyalah prestasi itu dicapai, bukan kondisi instan yang
penuh muslihat. Konstruksi yang demikian inilah yang merebak
secara signifikan dan militan tak terbendung dalam budaya
populer masyarakat dunia sekarang. Terlebih dalam industri-
industri yang melibatkan struktur imperialisme mimpi dengan
tawaran fetishismenya yang sangat indah.

Terjadi sebuah cacat logis dalam kerangka nalar.
Di sini terlihat kegairahan untuk mendapatkan predikat "yang
paling..." sedemikian gempitanya, hingga ekstasi yang muncul
akan memperlihatkan imajinya tersendiri yang kalo boleh saya
katakan adalah rendah secara makna. Seperti kata Baudrillard,
sebuah imaji tidak lagi merupakan cerminan realitas, melainkan
cermin dari kepentingan. Ya! Saya menangkap berbagai
bentukan warna kepentingan yang terlihat kusam bagi saya.
Kepentingan politis tentunya, sehingga dengan menelorkan
produk mie terbesar dan ditayangkan lewat media iklan (ckckck..
kelewatan memang!), akan membuat saya berteriak:
"BUAT APA SIH?!!"... Buat apa sih pake dibikin iklannya?
Buat apa sih gembar gembor mendapat predikat tayangan
reality show terbaik 2004, padahal acaranya sangat sarat
pembodohan? Dan saya jawab sendiri, "ya buat
kepentingan dong... menaikkan kredibilitas perusahaan...
memberi bukti kepada masyarakat bahwa perusahaan ini
bisa menjadi kebanggaan, karena produknya laris terjual."
CUIH!!! Sejujurnya, saya agak meradang, karena sifat-sifat
ekstrim inilah yang menjadi ciri budaya konsumerisme dalam
konteks yang lebih sempit.

Atau sekedar ungkapan "ibu rumah tangga terajin", akan jauh
lebih baik daripada mendengar kalimat "stadion termegah se-
Asia Tenggara." Seperti halnya artwork megah seniman Christo
dibandingkan dengan presentasi magis dari David Copperfield.

Aduh, maaf... saya memang selalu bermasalah dengan yang
namanya "kualitas & kuantitas".... jadi malu saya. :P

Lagipula, konyol juga sih mendengar kata "manusia terbodoh."

---

"Di dasar kehidupan manusia
terdapat prinsip ketidakcukupan."
-Georges Bataille (1897-1962)

1 Thoughts You Share:

Blogger mpokb said...

kalo komentarnya ABG : penting nggak sih? :)
nice posting, btw

Thu Mar 10, 08:03:00 PM  

Post a Comment

<< Home