&t /// JELAJAH BELANTARA ///: March 2007

Thursday, March 22, 2007

Mount Kerinci Expedition 2007.

Perjalanan menuju Padang kali ini berkesan. Bagaimana tidak,
sempat ketinggalan pesawat dan
mendung tebal menaungi bandara
Cengkareng,
membuat jantung berdegup tak berirama.
Namun keinginan menjajal medan Taman Nasional Kerinci Seblat
melebihi segalanya. Ekspedisi ini
memakan 2 bulan konsentrasiku.


PADANG

Penerbangan AA selamat membawaku ke Padang,
menyusul rombongan
pertama yang sudah sehari di sana.
Tanggal yang tersepakati adalah 26 Januari - 1 Februari 2007.
Chris, pemuda Jerman
yang bersamaku kelihatan letih.
Dia sudah tak tidur 2 hari
tapi semangatnya tetap membara
karena ini trip terakhirnya
di Indonesia, dan dia menginginkannya
sukses besar!
Ah! dasar bule, bagus belajar semangat ke mereka.

Travel kami sudah dipesankan Rahmi, seorang teman dan local guide.
Perut sudah terisi setelah 24 jam kosong. Ah! Memang semua
masakan Padang bersantan dan pedas. Namun ini
menyenangkan.
Apalagi berbicara kepada orang Padang
selalu dengan nada tinggi.
What a culture shock!


Travel membawa kami 7 jam menuju Kersik Tuo, sebuah desa terakhir
tepat di kaki Gunung Kerinci.
Jalanan khas Sumatera.
Kombinasi tajamnya kelokan dan
sopir yang super berani.
Duduk di depan membuat aku
dan Chris selalu menopang jantung
agar tak copot!
Sempat pula kaca spion kanan pecah terserempet
secara aduhai dengan yang
berlawanan arah. Supir bis malam di Jawa
bisa diadu lah!


Melewati Solok Selatan, terlihat dua danau besar.
Mereka menyebutnya Danau Di Atas dan Danau Di Bawah.

Alam Sumatera memang berbeda dengan di Jawa. Lebih lebar
panoramanya, dan selalu berkabut. Pastilah karena musim hujan.

KERSIK TUO

Kersik Tuo adalah desa transit, 1500 m dari aras laut,
49 km sebelah utara ibukota Kabupaten Kerinci yaitu Sungai Penuh.
Pemasukan utama adalah dari perkebunan dan dari para pendaki
yang telah lama mengagumi keindahan alam Gunung Kerinci.

Arloji menunjuk angka empat sore. Pondok itu dinamakan
Homestay Paiman, seorang Jawa yang sudah turun temurun
tinggal di sana. Curi dengar ternyata itu kawasan transmigrasi
sejak zaman Belanda dulu. Mungkin mereka telah dipekerjakan
di kebun teh terluas di dunia itu.

Hari itu rombongan pertama sudah beranjak ke Danau
Gunung Tujuh
,
20 mil arah timur dari kaki Kerinci. Sebuah danau
yang
sangat indah dengan beberapa spot pasir putih di pantainya.
Menu berkano keliling danau jangan sampai terlewatkan.

Begitulah kira-kira kata temanku,
karena aku tak ikut rombongan itu.


Homestay Paiman memiliki dua lantai dengan beberapa kamar kosong
yang khusus disewakan bagi pendaki atau sopir-sopir jarak jauh
yang melintas Kersik Tuo. Saya dan Chris mendapat satu
kamar kosong
di lantai bawah. Setelah berkenalan dengan
pemilik rumah,
menikmati waktu seperminuman teh hangat,
saya lalu menarik diri
ke perebahan. Menghemat tenaga untuk
pendakian esok pagi.


D-DAY

Pagi sekali, sebagian dari kami sudah beranjak mempersiapkan diri.
Rupanya rombongan pertama sudah tiba tadi malam, dan mereka
telah tinggal
di lantai atas.



Hawa dingin pagi tak membuatku surut. Hawa yang selalu
membuatku
rindu. Ditambah dengan mengetahui pagi itu
cuaca begitu cerah.
Kabut turun di kaki gunung di kejauhan
di tepi perkebunan teh.
Dan tepat di atasnya, menjulang dengan
gagahnya Gunung Kerinci.
Warna pagi yang gelap terasa dingin.
Sedingin sosok Kerinci.
Saya tak berkedip mengaguminya.
Semilir dinginnya pagi menemaniku
mengabadikan beberapa gambar
darinya. Gunung vulkanik tertinggi
di Indonesia.

Masakan ibu Paiman sangat enak, murah pula. Keramahannya
membuat kami betah. Dan perjalanan dimulai setelah sarapan.
Menuju pintu rimba kita diantar sebuah mobil ke sana.

Pintu rimba terletak 1 km dari Pondok R10, sebuah pondok
pengamatan
kegiatan vulkanis Kerinci. Berenambelas plus 5 porter
yang kita sewa
mulailah kita bergerak masuk hutan.
Perjalanan akan memakan waktu
sekitar 10 jam menuju Camp II.
Di dunia pendakian, istilah "camp" hampir semakna dengan "shelter",
yaitu tempat beristirahat atau bermalam dalam jangka waktu lama.
Bisa dibedakan dengan istilah "pos", yang hanya dipakai untuk
mengaso sebentar.

Di sepanjang pendakian, bisa kami lihat langsung vegetasi yang
cukup berbeda dengan yang ada di Jawa. Ada banyak kantung semar
dengan pepohonan yang lebih lebat dan belukar tebal seperti
buluh, resam, paku-pakis, dan lumut. Ciri khas hutan Ericaceous.
Terlihat juga jejak kucing emas, dan harimau sumatra yang
melegenda.
Itu kata salah satu porter kami. Di samping itu,
pendaki tidak dianjurkan mendirikan tenda di bawah ketinggian
1500 m,
karena itu adalah habitat harimau.

Bisa dilihat Gunung Kerinci jarang didaki, karena jalan setapaknya
tergolong sempit dan tidak banyak sampah kota, tidak seperti
gunung-gunung di Jawa atau Nusa Tenggara. Sepanjang rute
perjalanan
terdapat 4 camp utama. Dan kami beristirahat di Camp II
di ketinggian
sekitar 3000 mdpl. Sore itu menjelang sang surya
menutup hari kembali ke peraduannya.
Setelah mendirikan tenda dan
makan malam, seperti biasa
hampir semua anggota tim yang sudah
cukup lelah berangkat tidur,
menembus hangatnya kantung tidur
masing-masing, bersiap untuk
summit attack dini hari nanti.

SUMMIT DAY

Pukul 2 pagi di ketinggian 3351 m. Suhu dalam skala 5 derajat celcius.
Semua bersiap menuju puncak.
Kali ini rombongan berjalan beriringan.
Hanya Hendry dan
seorang porter, yang tinggal di tenda karena
lututnya salah urat.
Rozak, salah satu yang terkuat dari kami,
yang sehari sebelumnya
terkena diare hebat, sepertinya sudah bisa
meneruskan perjalanan.
Memang, di ketinggian seperti ini,
diare adalah salah satu momok dengan cerita-cerita konyolnya,

selain Acute Mountain Sickness (AMS).

Pukul 3 kita mulai merambah vegetasi khas tundra. Perdu dengan
kayunya
yang kuat lumayan membantu mengatasi kesulitan medan
yang terjal.
Memang, sejak dari pos 1, kita tidak lagi melintas
di jalan setapak,
tetapi jalur air, yang jika terjadi hujan pastilah
sangat amat
merepotkan. Namun rupanya Tuhan melindungi kami.
Beruntung sepanjang
pendakian nanti tidak ada hujan dan
angin kencang. Cuaca begitu cerah
di bawah bulan purnama
dan suguhan bintang gemintang serta lembutnya angin pagi
yang mendinginkan hati dan batu-batu puncak.


Climbing leader kita pagi itu, Kang Giri, berada di lintasan terdepan,
diikuti oleh para perempuan perkasa, kemudian diikuti yang lainnya.
Segera kita terjebak dalam antrian untuk melintas jalur yang sulit,
masih lintasan air, berbatu, kadang harus berjalan di tepian lintasan
berpegang pada akar dan pepohonan, dengan resiko terjatuh dalam
lintasan yang kedalamannya bisa mencapai 2.5 meter, sesekali harus
memanjat perpotongan jalur, menarik keatas rekan yang berada
di bawah, bahkan mendorong dari bawah pula. Tim akhirnya terpisah
menjadi beberapa kelompok kecil. Medan terjal berbatu dan
kemiringan 50 derajat, this is an adventure!.

Setelah melewati Camp III, 300 meter kemudian kita mencapai

tugu peringatan. Bisa kulihat beberapa tulang manusia bertebaran,
sisa pendaki yang gagal diselamatkan. Di sana pula mentari mulai
terbit, sinar kuning emasnya menembus lautan awan yang tebal.

Perlahan lukisan pagi itu mulai terkuak, lereng berbatu, tersambung
dengan hamparan awan seputih kapas. Pukul 7.30 peserta terakhir
sampai di puncak.
Pemandangan dari puncak Kerinci
sangat memukau, kita bisa melihat
Danau Kerinci dan Danau
Situjuh
yang berada di atas puncak
Bukit Situjuh, serta di bagian
selatan terlihat Lubuk Gadang
dan Muara Labuh. Sementara
di arah barat terlihat Samudera Hindia. Kawah Gunung Kerinci
yang aktif, mengangkang di depan kami.
Sangat indah.



Semua terharu. Masing-masing melakukan ritual khasnya.
Ada yang teriak, menangis, bersujud, bahkan menyendiri,
berkontemplasi di heningnya puncak. Setiap detik di atas sana
adalah momen paling indah, seakan dekat sekali dengan Tuhan.
Good weather condition. Good adventure! Sebuah pencapaian tim
yang bagus! Dan adrenalin untuk mencapai puncak-puncak
yang lebih tinggi lagi tetap menyala.

LAKE KERINCI

Setelah turun dari Kerinci, bahkan sempat tersesat sekali,
hari berikutnya kita pergi ke Danau Kerinci, arah Jambi.
Sebuah danau yang sangat luas yang masih dalam kawasan TNKS.
Rencana berenang terpaksa digagalkan, karena
waktu yang sempit.
Kami hanya makan siang di tepian danau.
Semua tampak gembira
setelah berhasil mencapai puncak Kerinci
sehari sebelumnya.
Termasuk Chris yang berangkat ke Padang duluan
dan menunggu
kami di sana esok hari.




Setelah menginap semalam lagi di Kersik Tuo, kami menuju ke kota
Padang untuk segera dijemput pesawat kedua menuju Jakarta.
Dari dalam pesawat, hamparan pegunungan Bukittinggi terlihat.
Dan saya berjanji untuk mengunjunginya lagi, merambah selimut
hijaunya
yang masih luas untuk dijelajahi.

more to see >>

Labels:

Thursday, March 08, 2007

Menjaga Oase Terakhir.

Pada awal tahun 1992, Akademi Sains Nasional Amerika Serikat
dan The Royal Society of London mengeluarkan sebuah laporan
yang dimulai dengan: "Jika ramalan-ramalan pertumbuhan penduduk
sekarang ini terbukti tepat dan pola-pola kegiatan manusia
di planet ini tetap tidak berubah, sains dan teknologi boleh jadi
tidak dapat mencegah kemerosotan lingkungan hidup yang tidak dapat
dipulihkan lagi atau mencegah berlangsungnya kemiskinan
terus-menerus bagi sebagian besar dunia"

Rupanya kita bisa rasakan sekarang, manusia telah mempercepat
datangnya masa depan mereka sendiri. Saya tidak tahu, apakah ini
salah satunya disebabkan oleh pernyataan Ivan Boesky >>
bahwa "Greed is healthy"? Atau kah seorang Al Gore yang berdiri
di satu sisi mempresentasikan pemanasan global adalah realitas
tak terhindarkan?

Iklim dunia memang sedang berubah. Bumi menggeliat lagi.
Awan mammatus yang terbentuk pra-badai di Amerika, bisa kita
alami di beberapa tempat di Indonesia. Malaria yang sudah hampir
tertanggulangi di Nairobi, malah mewabah di sisi lain Bumi.
Menghantam Indonesia juga. Tapi yang dihantam tidak cepat tersadar.



Pernah suatu ketika saya bertanya,
kebiasaan apa yang manusia sering lakukan untuk mengimbangi
dari sifat mengenyangkan ego sendiri?
Sempat juga suatu ketika saya putus asa karena tidak terjawab.
Beberapa jawaban mungkin memuaskan. Tapi bagi siapa?
Layaknya kita bertanya mengapa harus menghargai orang lain,
di mana mereka telah berbuat jahat kepada kita.
Jawaban sederhananya (mungkin) adalah: kausalitas.

Teritori dan terestrial. Dua kata yang tak pernah bisa saya sendiri
bayangkan betapa telah menjadi taruhan sejati sejarah manusia.
Sebuah taruhan yang mengerikan dari era suku semak Afrika
zaman lahirnya Homo Erectus pertama hingga merentang pada
pertempuran demi minyak di wilayah subur lembah sungai Tigris
dan Eufrat.

Kausalitas menggelindingkan lingkaran setan di dalam keserakahan.
Rentang waktu geologis telah dan akan merekamnya
hingga zaman nanti, tatkala Bumi ternyata bernasib buruk
memperlihatkan kerusakan yang menggeruskan keramahannya.

Kausalitas seharusnya memberi pelajaran mendalam, bahwa rupanya
alam tidak memberi ruang sedikit pun untuk ego manusia.
Bahkan tidak kompromi terhadap pahlawan kesiangan yang berpura-
pura berepertoar tentang kebaikan bersama atas nama
keberlangsungan hidup manusia.

Ada yang menarik dengan penghargaan Oscar ke-79 kemarin.
Al Gore menang di kategori Best Music dengan filmnya
An Inconvenient Truth (2006). Saya sendiri sih bangga bahwa
ada tokoh politik dunia yang begitu berpihak pada nasib dan
masa depan Bumi, yaitu pada lingkungan. Kenapa?
Seperti kita tahu, kita kekurangan figur kuat untuk kepentingan ini
demi untuk bisa masuk ke kalangan politisi.

Berikut artikel yang saya kutip dari harian Kompas tentang film itu.
Tapi maaf juga, saya jadi panjang lebar nyerocos teu puguh
padahal cuman pengen meresensi artikel itu. Namanya juga ngelantur.
Tidak ada tendensi politik di sini. Tentu saja.
Tidak semua politisi itu jahat. Tidak semua hanya demi uang.

---

AL GORE, OSCAR, DAN PEMANASAN GLOBAL

"Yang semestinya lega atas penghargaan Oscar untuk film
An Inconvenient Truth bukan hanya pencinta lingkungan,
tetapi seluruh umat manusia."



Film dokumenter yang mengisahkan perjuangan mantan
Wakil Presiden AS Al Gore untuk mengingatkan para politisi dan
masyarakat dunia akan bahaya pemanasan global ini
sungguh amat menggugah.

Seandainya saja Al Gore yang memenangi peilihan presiden AS
tahun 2000, nasib dunia boleh jadi berbeda, baik yang terkait
dengan tatanan politik internasional maupun yang terkait
lingkungan hidup.

Khusus yang berkait dengan lingkungan hidup,
apa yang diperjuangkan
Al Gore amat substansial.
Setelah banyak diragukan dan diperdebatkan,

kini tanda-tanda alam semakin banyak memperlihatkan,
gejala pemanasan global telah menjadi kenyataan.

Dalam film itu diperlihatkan bagaimana selimut-selimut es
di berbagai wilayah di dunia menyusut, demikian pula gunung es
di wilayah dekat kutub. Pemanasan itu sendiri semakin diyakini
disebabkan berbagai aktifitas manusia, seperti pengoperasian pabrik
dan kendaraan yang berbahan bakar konvensional.

Hasil pembakaran bahan jenis ini antara lain gas karbon dioksida,
yang dalam skala global berjumlah miliaran ton setiap tahun,
disemburkan ke atmosfer Bumi. Sebagai akibatnya, sinar matahari
yang tiba ke permukaan Bumi tak leluasa dipancarkan kembali
ke luar angkasa. Panas tersebut terperangkap dekat permukaan Bumi,
menghasilkan gejala seperti di rumah kaca yang digunakan untuk
menyemai tanaman.

Dengan film yang dibintanginya secara amat serius, disertai
keprihatinan mendalam, Al Gore berhasil mengangkat isu
paling fundamental tidak saja bagi umat manusia,
tetapi juga bagi Sang Bumi. Sungguh membesarkan hati,
kalangan perfilman pun ikut menghargai perjuangan Al Gore.
Mengingat film sebagai medium efektif untuk menyampaikan pesan,
An Inconvenient Truth yang sekitar tiga bulan silam diputar
di gedung-gedung bioskop Indonesia masih layak untuk diputar kembali.

AS sebagai penyemprot gas rumah kaca terbesar di dunia
(Indonesia urutan ke-3 terbesar, terbanyak dari pembakaran hutan)
semestinya meninggalkan ego sempitnya untuk bergabung dalam
semangat Protokol Kyoto untuk secara bertahap mengurangi emisi
karbon dioksidanya. Ketika negara lain semakin bersatu memerangi
ancaman pemanasan global, terasa absurd apabila AS
yang melahirkan
seorang hebat seperti Al Gore justru
mengambil sikap berseberangan
dengan arus utama dunia.

Dalam hal ini, Indonesia pun tidak boleh ketinggalan kereta
untuk ambil bagian dalam upaya mengekang pemanasan global.


(ditulis ulang dari Kompas,28 Februari 2007)

---

Sekilas Al Gore:

Albert Arnold Gore, Jr. (born March 31, 1948)
is an American politician, teacher, businessman, and
environmentalist who was the 45th Vice President of the
United States in the Clinton administration from 1993 to 2001.
He also starred in the Academy Award-winning documentary,
by director Davis Guggenheim, An Inconvenient Truth.

Previously, he had served in the United States House
of Representatives (1977-85) and the United States Senate (1985-93)
for Tennessee. Gore was the Democratic nominee for President
in the 2000 election. He won a plurality of the popular vote,
with over half a million more votes than the Republican candidate
George W. Bush, but was defeated in the Electoral College
by a vote of 271 to 266.

Gore currently is president of the American television channel
Current TV, chairman of Generation Investment Management,
a director on the board of Apple Inc., and an unofficial adviser
to Google's senior management. He lectures widely on the topic of
global warming, which he calls "the climate crisis".
Gore has contracted to write a new book, The Assault on Reason,
to be published May 22, 2007. While Gore has stated that he does not
intend to be a Presidential candidate again,
he has left open the possibility of being a candidate in the future,
and Gore is frequently mentioned as a potential candidate for the
2008 Democratic presidential nomination. In February 2007,
Gore was nominated for a 2007 Nobel Peace Prize for his efforts
to end global warming. >>

Labels: