&t /// JELAJAH BELANTARA ///: February 2005

Sunday, February 27, 2005

Rock n' Roll yang Menyublim.

Punten nyak, sebelumnya minta maaf dikarenakan semangat saya
yang terlampau meluap dalam menulis 2 postingan terakhir ini...
sebab jantung saya lagi berdegup sangat cepat sehabis olahraga
berat akhir-akhir ini. Jadi maklum saja. :P... (aduh, sounds like
ngeles niye...).

Kali ini timbul dari kunjungan saya ke HRC di Plasa EX Jakarta.
Kunjungan yang saya lakukan secara terpaksa ke tempat-tempat
seperti ini hanya karena kepentingan tempat saya bekerja. Bah!

Hard Rock Cafe atau HRC, salah satu warung modern tematis yang
dengan segala konsep isinya meyakinkan dunia, seharusnya adalah
proyek yang mengatasnamakan sebuah genre musik yaitu hard rock.
Memang, segala isi interiornya bertemakan memorabilia genre ini.
Mulai dari gitar legendaris musisi rock hingga collectibles-nya yang
sebenarnnya cool dan akan tampak bisa dibanggakan bagi
pemakainya yang berjiwa pure rock. Tapi entahlah, kok sepertinya
terjadi deviasi yang cukup lebar, bahkan jauh dari jalan aslinya.
Seharusnya mereka menampilkan musik sesuai dengan bandrol
hard rock
yang mereka usung, ini malah genre lain seperti R&B
atau sejenisnya yang disetel pada setiap malam (siang saya gak tau,
mungkin dipakai buat lapangan badminton RT setempat kali :P);
sangat berbeda dengan semangat hard rock.

Saya tidak bicara mengenai reproduksi imaji seperti konsep dari
Pakde Umberto Eco tentang neurosis rekonstruksi terhadap
otentisitas--walau sedikit banyak berkorelasi, karena memang
pada dasarnya memorabilia di sana kebanyakan merupakan
barang asli yang pernah digunakan.


Saya melihatnya, justru citra HRC merupakan media marketing
yang efektif penyebaran hal-hal lain di luar warna hard rock.
Semacam kepentingan yang kurang ajar kalo boleh dibilang.
Oportunis sekali, bukan?

Implikasinya apa?
Lebih jauh, kalo mau dirunut, konsep warung ini bahkan
seharusnya bisa mengembangkan khasanah per-hard rock-an
dunia, memperkaya sekaligus mempopulerkan secara bagus,
mengimprovisasi secara terbuka, bukannya justru menggerus
dan menggantinya dengan sesuatu yang sama sekali lain.
Anggota kontrakan baru bernama R&B dan sejenisnya malah
mengambil alih peran di dalamnya.



Kenapa gak ganti nama saja? Mungkin dulu tahun 1971 ketika
dibuka pertama kali di London sebelum menjadi sekitar
108 franchise di 41 negara saat ini, mempunyai misi memajukan
musik hard rock dengan sentuhan makanan ala Amerika, dan
komintmen usaha kemanusiaan, seperti membantu para pekerja
yang membersihkan puing-puing tragedi WTC.
Dan memang benar, tercatat beberapa musisi rock papan atas
pernah berjaya di panggung warung ini seperti Pantera,
Godsmack
, Sugar Ray, Erykah Badu, The Go Go's.
Juga dibalut dengan program pesta (party) untuk sebuah
perayaan tertentu, ya dengan musik rock tentunya, sesuai dengan
misinya:
delicious food, awesome music, a high-energy atmosphere
and creating a
rock 'n roll experience their guests will never forget.
Nah lo! Itu yang terjadi di HRC di luar sana, beda lagi ama HRC sini,
atau di beberapa negara. (www.hardrock.com)

Adalah salah ketika picik di depan dunia rock.
Sekali lagi untuk HRC Indonesia, kemungkinan mengganti jenis
musiknya bertautan dengan psikologis manusia sini. Dengan
semena-menanya pengelola sini mungkin berpikiran bahwa
musik rock akan membawa dampak buruk, terjadi anarki dan
kekerasan, mabuk-mabukan, suasana menjadi liar di dalam
ruangan HRC. Sedangkan beat-beat R&B dan hiphop dianggap
bisa meredam semua kenegatifan itu dan dianggap up-to-date.
Berkedok universalitas musik? Yang benar saja, oom....
What a smart-ass!!! Harusnya mereka lebih banyak belajar
memahami dunia rock, jika memang mereka bekerja di sana.
Sekali lagi, ini potret lusuh kebanalan masyarakat kita.
HRC memang sebuah panggung hiburan saja, namun bukan
konsolasi yang saya harapkan berperan sebagaimana mestinya.

Di sini ada kata 'SEHARUSNYA' yang mempunyai konsekuensi
bernilai mahal. Sepertinya agak memberatkan, namun usaha
mengembalikan peran kata ini tampaknya tidak bisa bergeming
melawan agen pengelola HRC di beberapa outletnya
untuk menambah porsi genre musik hard rock di warung ini.
Saya juga kurang tahu apakah memang disesuaikan dengan
budaya setempat atau gimana (lho, kok bertentangan dengan
semangat homogenitas globalisasi? piye iki?). Maaf saja,
saya kurang info. Namanya saja sok tau, lagi emosi pulak, dan
nampaknya saya tidak berselera dengannya...:P
Ada yang mau nambahin?

Saturday, February 26, 2005

Gadis Tercantik itu Bernama Fatamorgana.

Saya geli ketika suatu pagi menyaksikan iklan lucu produk mie instan
(walau saya sering mengkonsumsinya, tapi saya tak sudi menyebut
mereknya di sini!... naif memang!:P) yang membanggakan sebuah
pencapaian 'prestasi', yaitu membuat mie terbesar dan akhirnya
masuk Museum Rekor Indonesia dan Guinness Book of Records.
Ah! Ilusi macam apalagi ini?



Sejujurnya, secara semiotis ini masalah bagi saya.
Namun kasus seperti ini kerap kali saya temukan di dekat-dekat
saya juga, seperti membuat ketupat terbesar atau roti tertinggi.
Nah, saya awalnya sih bingung harus memasukkannya ke dalam
wacana mana, mengingat terjadi kemunculan dua kubu makna.
Di satu sisi, ungkapan superlatif seperti ini merupakan usaha
manusia dalam membuktikan kekuatannya yang dimanifestasikan
lewat sebuah prestasi, tentunya akan saya hargai kerja kerasnya.
Memilih kata sifat dengan awalan "ter..." atau "paling..."
telah menjadikan kerancuan pikir kita, sejak dahulu.
Dan kanal ini sangat mungkin terjadi lalu lintas hasrat (desire)
yang bebas, mengikuti arus kapital yang tidak penah diam.
Lebih terperosok lagi, ia selalu mencari pelepasan-pelepasan baru,
mengikuti pemujaan-pemujaan baru seperti dalam konsep
mesin hasrat Guattari. Hasrat selalu menggiring manusia ke dalam
apa yang dikatakan di dalam terminologi psikoanalisis sebagai
the culture of narcisism, yaitu manusia yang selalu mencari
ketenaran, popularitas, publisitas, dengan segala sensasinya.

Ketika di sandingkan ungkapan "gedung tertinggi", "manusia
terkuat", "bahkan banci tercantik", dengan prestasi seperti
"murid terpandai", "lulusan terbaik", "band legendaris",
"pelukis terkenal", "aktris terbaik", "film terbaik", "kecerdasan
Einstein", "kreativitas Leonardo da Vinci", "kenegarawanan
Kennedy", akan menjadi kentara filosofisnya. Atau seperti kata
M seorang karakter dalam film THE INCREDIBLES yang menohok
makna kata supermodel....bener juga sih, apanya yang super coba?
Penyebaran struktur histeria semacam ini dalam kebudayaan
akan memunculkan narasi betapa pentingnya sebuah kronologis
pembuktian diri. Saya katakan kronologis karena sebuah proses
sebenarnyalah prestasi itu dicapai, bukan kondisi instan yang
penuh muslihat. Konstruksi yang demikian inilah yang merebak
secara signifikan dan militan tak terbendung dalam budaya
populer masyarakat dunia sekarang. Terlebih dalam industri-
industri yang melibatkan struktur imperialisme mimpi dengan
tawaran fetishismenya yang sangat indah.

Terjadi sebuah cacat logis dalam kerangka nalar.
Di sini terlihat kegairahan untuk mendapatkan predikat "yang
paling..." sedemikian gempitanya, hingga ekstasi yang muncul
akan memperlihatkan imajinya tersendiri yang kalo boleh saya
katakan adalah rendah secara makna. Seperti kata Baudrillard,
sebuah imaji tidak lagi merupakan cerminan realitas, melainkan
cermin dari kepentingan. Ya! Saya menangkap berbagai
bentukan warna kepentingan yang terlihat kusam bagi saya.
Kepentingan politis tentunya, sehingga dengan menelorkan
produk mie terbesar dan ditayangkan lewat media iklan (ckckck..
kelewatan memang!), akan membuat saya berteriak:
"BUAT APA SIH?!!"... Buat apa sih pake dibikin iklannya?
Buat apa sih gembar gembor mendapat predikat tayangan
reality show terbaik 2004, padahal acaranya sangat sarat
pembodohan? Dan saya jawab sendiri, "ya buat
kepentingan dong... menaikkan kredibilitas perusahaan...
memberi bukti kepada masyarakat bahwa perusahaan ini
bisa menjadi kebanggaan, karena produknya laris terjual."
CUIH!!! Sejujurnya, saya agak meradang, karena sifat-sifat
ekstrim inilah yang menjadi ciri budaya konsumerisme dalam
konteks yang lebih sempit.

Atau sekedar ungkapan "ibu rumah tangga terajin", akan jauh
lebih baik daripada mendengar kalimat "stadion termegah se-
Asia Tenggara." Seperti halnya artwork megah seniman Christo
dibandingkan dengan presentasi magis dari David Copperfield.

Aduh, maaf... saya memang selalu bermasalah dengan yang
namanya "kualitas & kuantitas".... jadi malu saya. :P

Lagipula, konyol juga sih mendengar kata "manusia terbodoh."

---

"Di dasar kehidupan manusia
terdapat prinsip ketidakcukupan."
-Georges Bataille (1897-1962)

Thursday, February 17, 2005

Intuisi, Tidak Lagi Entahlah.

Mari sejenak bicara tentang intuisi. Mari kita menghadirkan sewujud
perbekalan alami manusia sepanjang hidupnya, dimana manifestasi
dalam ruang dan riwayat manapun tetap kokoh, tidak terfragmentasi
maupun terkikis. Dia berlaku representatif terhadap pertanda
(signage) karena dia bukan wujud yang merujuk pada diri sendiri
(self-reference). Ada beberapa pintu dimana kita bisa melangkahkan
kaki menuju pemahaman akan intuisi, dan kali ini saya memilih pintu
idealisme transendentalis.

Katakanlah intuisi dengan insting merupakan sinonim,
bahwa semua intuisi kita tidak lain hanyalah representasi atas
penampakan (singular maupun plural events); bahwa sesuatu yang
kita intuisikan bukanlah sesuatu itu sendiri yang kita intuisi
sebagai ada, dan hubungan antara keduanya juga tidak tercipta
dalam diri mereka sendiri sebagaimana tampak (appearance)
pada kita, dan bahwa jika subjek, atau bahkan hanya konstitusi
subjektif indrawi secara umum dihilangkan, seluruh konstitusi dan
semua hubungan di antara objek dalam ruang dan waktu,
bahkan ruang dan waktu itu sendiri, akan hilang (dissapear).
Sebagai penampakan, mereka tidak bisa eksis dalam dirinya sendiri,
melainkan hanya dalam diri kita. Sedangkan apapun objek
yang mungkin ada dalam dirinya sendiri, dan terpisah dari
semua bentuk penerimaan kemampuan kita dalam menyadari,
sepenuhnya tidak kita ketahui.

Terdapat hubungan kausalitas dan alamiah antara intuisi dengan
pencerapan terhadap citra, baik rupa fisik ataupun persepsi
wujud aural yang bernilai historis dari ruang riwayat hidup individu.
Beberapa rekan saya, Yudi, Bertie, Mbah Kere, mengenal konsep
ini dengan baik. Pencerapan yang demikian tidak berarti
mengandung korelasi yang erat, mengingat intusi sendiri akan
bergerak sefaham menopang pengetahuan, dimana pengetahuan
itu sendiri tersusun atas pencerapan segala sesuatu
yang terpikirkan.

Sifat yang kita miliki tertata sedemikian rupa sehingga intuisi kita
tidak mungkin memiliki bentuk lain kecuali sebagai sesuatu yang
mampu menyadari; dengan demikian, ia hanya memiliki satu cara
yang dengannya kita terpengaruhi oleh objek-objek. Di lain pihak,
kemampuan yang memungkinkan kita untuk berpikir tentang
objek-objek yang bisa disadari oleh intuisi adalah pemahaman.
Tidak ada salah satu dari dua kemampuan itu yang lebih utama
daripada yang lain. Tanpa kemampuan menyadari, tidak ada objek
yang bisa kita tangkap, tanpa pemahaman, tidak ada objek
yang bisa kita pikirkan.

"“Thoughts without content [are] empty,
and intuitions without concepts [are] blind.”
-Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, 1781

Dengan demikian, adalah sesuatu yang perlu untuk menjadikan
konsep-konsep kita bisa disadari, yakni dengan menambahkan
objek ke dalam konsep-konsep dalam intuisi, sehingga menjadikan
intuisi kita bisa dipahami, yakni dengan memasukkan intuisi
ke dalam konsep. Membingungkan? Coba mengambil alur tersingkat
alias yang paling sederhana. Kedua kekuatan dan kemampuan ini
tidak bisa bertukar fungsi.Pemahaman tidak bisa mengintuisikan
apa pun, indra tidak bisa berpikir. Hanya melalui kesatuan antara
keduanyalah pengetahuan bisa diperoleh.

Di samping intuisi indrawi yang dengan sesuatu disadari adanya,
semua pengalaman juga memiliki konsep tentang suatu objek
sebagai sesuatu yang ada begitu saja, yakni sebagai sesuatu
yang menampakkan diri. Dengan demikian, konsep-konsep
tentang objek secara umum mendasari semua pengetahuan
empiris sebagai syarat a priori-nya. Jadi, validitas objektif
berbagai kategori sebagai konsep-konsep a priori terletak
pada fakta bahwa, sejauh berkaitan dengan bentuk pemikiran,
hanya melalui konsep-konsep itu pengalaman menjadi mungkin.
Konsep-konsep itu menghubungkan keniscayaan dan a priori
dengan objek-objek pengalaman, dengan alasan bahawa hanya
melalui merekalah sembarang objek pengalaman bisa dipikirkan.

Kajian metafisika, yang mempelajari secara filosofis akan
perwujudan dan pemahaman, tidak mungkin terlewat begitu saja.
Kehadiran citra, baik realitas dan hiperealitas, telah mampu
membangkitkan wilayah pengalaman terhadap objek-objek
di dalamnya, sejak pengalaman Nabi Adam A.S di surga hingga
kehidupan zaman jahiliyah posmodern yang serba paradoksal ini.



Seyogyanya penajaman intuisi mampu mengarah ke usaha kreatif
untuk bertahan dan berinovasi. Sebagai gambaran, intuisi akan
mengupayakan jalan yang harus dilalui, bersama dengan indera
membubuhkan daftar situasi dan konsekuensinya. Dan jika lebih
jauh lagi dalam amplifikasinya, intuisi dapat menjelma menjadi
Extra Sensory Perception, seperti yang dimiliki para cenayang.
Sebuah cabang yang lebih bersifat post-spiritual sehingga saya
tidak akan buang waktu untuk membahasnya.

Moralitas dalam intuisi terbentuk dari pemahaman.
Dan pemahaman bisa ada dua, katakanlah, arus kiri dan
arus kanan. Keduanya pada prosesnya membentuk evolusi moral
sang individu. Sama ketika Neo harus memilih antara pil merah
atau pil biru.

(Immanuel Kant rules! Juga makasih buat Mbah Kere Kemplu
atas pinjaman istilahnya, walau tanpa seizin redaksi :P...
Dan maafkanlah eklektisisme!)


Sunday, February 13, 2005

Macan - Sungai - Kalpataru

"It seems to me that we all look at Nature too much,
and live with her too little."
- Oscar Wilde, De Profundis, 1905

---

Sandal gunung; daypack ransel; kaos OBITUARY; dan celana belel,
ditemani 7 rekans, sepakat 3 hari lalu ke Taman Safari Indonesia
di Bogor demi sebuah Safari Trek. Yeah! Lumayan juga perjalanan
kali ini untuk hanya sekedar menguras isi paru-paru dengan
oksigen bersih melintasi hutan perawan sejauh 8 km. Mas guide-nya
pun kelihatan sangat mumpuni dengan pengetahuan tentang
dunia satwa dan flora di sana, setia mendampingi kami satu putaran
penuh. Yup! Sebuah nilai plus!



Begitu sekelumit kunjungan ke negeri para binatang di Bogor.
Sesuai slogannya: "Come For Happy, Stay For Healthy",
agaknya menjadi jaminan akan ke-profesionalisme-an sebuah
pekerjaan yaitu jasa layan. Bagus da ceuk abdi mah, bagi ukuran
negara ini. Tentu saja saya akan membandingkannya dengan
keramahan dan akomodir petugas pos, petugas loket kereta,
atau bahkan teller-teller bank yang cantik mulus.
Hanya sebatas oknum sih memang, cuman dengan jumlah yang
tidak sedikit. Mungkin dengan tiket seharga 45,000 perak bukan
merupakan tolok ukur kesejahteraan para pegawai di Komplek
Taman Safari Bogor, yang notabene melakukan tugas maintenance
sekaligus feeding satwa. Bandingkan lagi dengan HTM Terusan
di Dufan, yang mungkin, hanya untuk sekedar pemeliharaan alat-
alat supaya tidak berkarat ataupun membahayakan pengunjung.

Disadari atau tidak, mental pekerja di Taman Safari (tentu tidak
semuanya, bukan?) bisa dijadikan contoh bagi jasa layanan
yang lain agar meningkatkan nilai etos kerja, sehingga tidak
ada komplain dari konsumen yang kurang puas. Dengan begitu,
hak konsumen adalah menjadi main job description mereka.
YLKI
bersama pemerintah pun bisa memberikan award (plus bonus
kesejahteraan berkelanjutan) buat mereka, menyandingkannya
dengan Kalpataru yang sudah ada di sana.



Kekuatan-kekuatan semacam ini yang bisa memajukan kita.
Dan saya merindukan kondisi demikian.

(senang sekali akhirnya bisa jalan-jalan lagi masuk hutan.
Indonesia masih hijau ternyata, semoga hingga akhir waktu)


www.tamansafari.com

---

"Only when the last tree has died
and the last river been poisoned
and the last fish been caught
we will realise we cannot eat money."
- Cree Indian Proverb

Thursday, February 10, 2005

Energi Yang BerHIJRAH.

Kata orang Jawa, inilah bulan Suro. Sebuah aksioma yang bermakna
keramat katanya. Bagi sebagian besar orang Jawa yang masih
berkiblat ke kraton Solo dan Jogja, diharap dalam bulan ini
semua orang mawas diri, tidak berlaku profan dan aneh-aneh.
Tapi, tetap saja ada yang mencoba menggeserkan maknanya,
yang kebanyakan dilakukan oleh kamu mudanya, seperti tradisi
berendam (kungkum) yang malah dijadikan ajang pacaran ketika
malam satu Suro tiba. Hahaha! Desakralisasi rupanya. Baguslah!
tentunya dengan alasan yang tepat!

Hijrah artinya berpindah. Ada dua kandungan yang merangkum
kejadian besar terutama umat Islam. Hijrahnya Rosulullah SAW
dan kaum Muhajirin dari Mekkah ke Yastrib, sekaligus lompatan
besar bagi makna filosofis di dalamnya. Kata orang-orang cendekia,
secara historis inilah momentum untuk tetap semangat dalam
mengevaluasi diri. Setelah bermuhasabah ke belakang, bersiaplah
selalu berpindah ke tataran yang lebih tinggi,
sebab perubahan mengandung arti kemajuan.
Dan bulan baru Muharram bisa dimulai dari yang kecil,
dari diri sendiri, dan saat ini.

Pita atau koridor persepsi sangatlah lebar, memungkinkan berbagai
pandangan berlalu-lalang di dalamnya. Jadi silakan berpersepsi
sendiri, namun haruslah sebuah persepsi bisa menginterpretasi
kedudukannya dalam budaya manusia. Sebuah eksplanasi yang
diharuskan menolak jajahan terhadap intelektualitas.

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1426 juga.
Selamat menikmati sisa-sisa usia yang akan kita jalani nanti.

Wednesday, February 09, 2005

AYAM Tetangga yang Apes.

Ada ayam di belakang kamar peraduan saya. Di dalam kandang
tentu saja yang dini hari tadi mengganggu sekali kenyenyakan
tidur saya. Karena beberapa anjing liar dengan serta merta
menerobos pagar besi tua dan mulai mengepung ayam-ayam itu.
Sepertinya anjing-anjing merangsek dengan buas, ayam-ayam itu
sangat ketakutan agaknya, berkoar-koar (bukan berkokok)
kesakitan dengan suara berdesibel tinggi nan menyayat jiwa.

Kasihan pikirku. Katanya tahun baru Imlek ini adalah tahun ayam.
Sedangkan ayam tadi malah mengawali harinya dengan sial.



Tahun Baru Imlek sebenarnya perayaan bagi agama Khong Hu Cu
yang kehadirannya ribuan tahun sebelum negara Cina diproklamirkan.
Ditandai dengan sujud syukur pada Thian, Tuhan mereka, dan
diikuti ritual-ritual keagamaan yang mendalam.
Jadi akan salah kaprah ketika harus mengkaitkannya dengan budaya
Cina.

Seperti kita ketahui, agama yang lahir dalam suatu wilayah tertentu
akan mempengaruhi tradisi setempat, bukan sebaliknya. Dan agama
Khong Hu Cu tidak merepresentasikan budaya Cina, karena agama ini
berbicara tentang Tuhan dan firmannya, Kebajikan dan sebagainya.

---

Penanggalan Imlek

Perhitungan penanggalan Imlek semula didasarkan atas peredaran bulan mengelilingi bumi (lunar calender), dan telah dikenal sejak ribuan tahun sebelum masehi. Uniknya perhitungan penanggalan ini juga didasarkan atas peredaran bumi mengelilingi matahari (solar calender), seperti penanggalan masehi. Maka terjadi penyesuaian yaitu melalui mekanisme yang dikenal sebagai 'Lun Gwee' (bulan ulang) atau penyisipan 2 (dua) bulan tambahan setiap 5 (lima) tahun. Dengan adanya penyesuaian ini maka lebih tepat disebut penanggalan Imyanglek (sistem lunisolar).

Dalam sejarah tercatat, penanggalan Imlek dimulai sejak tahun 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Penanggalan Imlek sebutan asalnya adalah He Lek, yakni Penanggalan Dinasti Ke / Hsia (2205-1766 SM), di mana pertama kali mengenalkan penanggalan berdasarkan solar, dan penetapan tahun barunya bertepatan dengan tibanya musim semi. Dinasti Sing/Ien (1766-1122 SM) menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He, yakni akhir musin dingin. Nabi Khongcu yang hidup pada zaman Dinasti Cou / Chin (1122-255 SM) merasakan bahwa sistem penanggalan yang dipakai Dinasti Ciu kurang mempunyai nilai praktis, yaitu karena tahun baru jatuh jatuh pada hari Tangcik (Tung Ze).Saat itu hari tengah musim dingin maka pendapat Nabi Khongcu, penanggalan Dinasti He yang paling tepat, hal itu dapat diketahui dari Sabda Nabi Khongcu : "Pakailah penanggalan Dinasti He ..." Kitab Sabda Suci (Lun Gi / Lun Yu) jilid XV : 11.

Adapun yang menjadi dasar pertimbangan Nabi Khongcu adalah kesejahateraan umat manusia. Pada kehidupan zaman dahulu, penetapan saat tahun baru memegang peranan yang amat penting, karena penetapan tersebut menjadi pedoman bagi semua orang untuk mempersiapkan segala pekerjaan untuk tahun yang berjalan, terutama para petani yang akan mulai bercocok tanam pada saat akhir musim dingin dan memasuki musim semi. Penanggalan ini sangat cocok bagi petani karena penanggalan tersebut perhitungan musim, peredaran matahari, serta uraian penjelasan mengenai iklim, maka penanggalan tersebut jadi populer dan disebut juga Long Lek (penanggalan petani).

Kaisar Han Bu Tee (140-86 SM) dari Dinasti Han (206 SM-220) menetapkan agama Khonghucu sebagai agama negara, dan penanggalan yang dianjurkan oleh Nabi Khongcu, yaitu He Lek resmi dipakai semua orang, baik masyarakat maupun pemerintahan dan tahun pertamanya dihitung dari tahun kelahiran Nabi Khongcu, yaitu tahun 551 SM, dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan masehi berselisih 551 tahun. Oleh karenanya jika tahun masehi saat ini 2005, maka tahun Imleknya menjadi 2005 + 551 = 2556. Karena dihitung sejak Nabi Khongcu lahir maka tahun Imlek lazim disebut sebagai Khongculek.

Sistem penanggalan Imlek ini digunakan juga dalam kehidupan keagamaan di antara umatnya di Jepang, Korea, Vietnm, Taiwan, Burma, dan negara lainnya meskipun dengan nama yang diucapkan berbeda-beda tetapi merayakan hari tahun barunya sama. Bahkan di lingkungan agama Budha Sekte Mahayana yang berkembang di kawasan Asia Timur juga menggunakan penanggalan Imlek guna menentukan hari-hari suci keagamaannya.

Tahun Baru Khongcu (Imlek) selalu jatuh pada bulan baru (Chee It / Chu Yi) setelah memasuki Tai Han (T Kan) 21 Januari (Great Cold - saat terdingin), sampai dengan tibanya Hi Swi (Yi Sue) 19 Feebruari (spring showers - hujan musim semi). Tapi masih dapat ditolerir paling awal 3 hari sebelumnya seperti tahun 1969 jatuh pada hari Sabtu, 18 Januari 1969.

---

Ada satu sisi yang selalu menyita rasa penasaran saya, yaitu nasib.
Sial, untung, atau hoki, kata teman saya kita harus bangun pagi
seperti ayam-ayam yang selalu membangunkan kita, menyambut
mentari merekah memberi kelancaran rejeki. Itu kata temen saya
yang setengah cina tadi. Dan shio yang dianggap kebudayaan itu
dikatakannya berdasar gejala alam. Aha! Sebuah pemaknaan tanda
rupanya! Atas sebab apa?


Benar atau tidak, saya rasa kita memang seharusnya bangun pagi
untuk memulai segala kegiatan (secara normal) tanpa memandang
apakah ini tahun ayam atau tahun kalong atau sebangsa hewan.
Menurut hemat saya, peruntungan itu tidak ada. Dan saya paham
benar hasrat manusia yang selalu mencari korelasi antar medium,
yang KADANG tidak bersenyawa, artinya budaya tahayul demikian
bagi saya kurang masuk akal sama sekali, analogi dengan astrologi.
Ya, primordialisme sepertinya masih mendapat tempat di zaman
yang sudah ramai dengan teknologi wireless hi-fi ini.

Namun, tetep deh:
GONG XI FAT CAI 2556 buat yang merayakannya.
dan saya tetap menghargai usaha pemaknaan tanda tadi oleh
sebuah agama manusia yang bernilai tinggi.

(dicomot dari dunia internet yang memabukkan)

Monday, February 07, 2005

Kerenisasi Radikalisme.

Minggu sore tadi , sepulang meregangkan otot di genangan air
sekolam di Senayan, saya meluncur (cieh...emang roket?)
ke daratan Blok M, sekedar membeli cacing buat makan ikan dan
sebotol Albothyl peredam sariawan. Melewati bawah jembatan
penyeberangan depan Plasa Blok M, saya tertegun sejenak
dengan kehadiran 2 los kaki lima penjual kaos. Tapi ini luar
biasa. Kaos-kaos yang dijual ini sangat provokatif sekali.
Beragam macam tulisannya. Sepintas saya lihat mungkin ada
sekitar jenis anti-kemapanan, plesetan, dan pornografi yang
dipampang, dan semuanya ancur lebur, menyatu bersama
kaos-kaos underground lainnya. Kalo yang jenis anti-sosial
semisal plesetan logo Coca Cola atau Starbucks,
saya tentu akan sependapat.

Saya pernah bikin juga, tapi yang ini sangat hantam-kromo,
baik dari segi visual maupun linguistiknya.
Terutama yang
melihat adalah kacamata awam, publik kebanyakan.
Beberapa kayaknya bikinan sendiri, tapi kebanyakan ide ngambil
dari situs-situs jualan kaos di seberang negeri.
Mending situ liat sendiri aja, barangkali tertarik membeli dan
menyenangkan penjualnya.
Saya akhirnya bertanya, apakah radikalisme sedemikian
memang tidak tabu lagi? Mengkerdilkan arti offensivity dan
censorship, sarkasme semantik sehingga memperkeruh
wacana semiotika sosial dan tatanan kultur terutama
masyarakat Jakarta? Padahal di luar negeri sana juga
katanya masih tabu. Nah inilah yang (ironisnya )dianggap keren.
Cool like they said.



T-shirt really talks. You are what you wear.

Bisa jadi yang beli bukan hanya orang Jakarte, dan
yang dari luar DKI bisa membawanya pulang, memakainya
di daerahnya, dan tersebarlah globalisasi radikalisme kota
ke desa. Radikalisme masuk desa.

(keren juga sih, tapi untuk apa? satu-satunya alasan saya
tidak membelinya adalah kualitas sablonannya runyam dan
tidak terkomposisi secara estetis... Hahaha)

+worth-visiting www.tshirthell.com

Sunday, February 06, 2005

Constant Aggression to Keep Children Stupid.

Sibuk menuntut hak. Itu yang sering terlintas dari peristiwa
kediktatoran tugas negara. Merampas hak orang bagi saya sangatlah
tidak termaafkan!

Konsep akademis dalam urusan pembuatan anak pintar lalu menjadi
manusia cerdas bisa menjadi isu utama keinginan sebagian kita,
yang disisakan dari sebagian gelintir orang salah yang membenarkan
polah menjarah hak saya-ingin-pintar anak-anak. Dan lihat,
mereka ini anak kita, putera kandung bumi Indonesia.
Sama saja membunuh mereka tanpa sebab yang transparan.
Bukan lagi menjadi kelinci percobaan, bahkan kadang sudah terlahir
berstatus korban. Ya! Jelas korban pembantaian besar
dunia pendidikan! Pengungsi dari surga. (Pengetahuan itu indah,
percayalah!).



Anak Indonesia adalah anak-anak kita. Alasan apalagi yang ingin
diutarakan wahai para pengecut, untuk sekedar menghempaskan
sekali lagi mimpi-mimpi luhur anak-anak itu? Kurikulum yang
diperbaharui atau stereotip saja agaknya, menjadi ulasan umum
untuk sekedar perpanjangan tangan arogansi pengecut dalam arus
pendidikan, di negara ini. Dan guru sebenarnya juga korban.
Dengan tugas khususnya mendidik akan seringkali ditemui terdistorsi,
dengan urusan perut. Anggaran pendidikan terkucur sedemikian pelit
untuk pendidikan yang sangat mahal. Ya! Bahkan untuk membeli
beras pun harus merogoh saku anak didiknya untuk memaksakan
membeli buku pelajaran yang seharusnya tidak dijual.
Sesuatu yang sangat mahal, yang sebenarnya bisa dipermurah
dengan menambah pundi-pundi celengan tiap guru yang
'seharusnya tulus'. Di sini jelaslah praktek kapitalisme bermain
dengan riangnya membius setiap jengkal akar-akar kehidupan
yang menghidupi pohon pendidikan. Tuh kan, bukan saja
wajah modernisme yang berjerawat, di dalamnya pendidikan
Indonesia juga carut-marut. Distorsi semiotika pendidikan.
Fakta sosialnya demikian adanya. Kita ini yang sekolah tuh otaknya,
bukan uang sakunya!

Kasus Ujian Nasional yang akan diadakan Mei 2005 nanti alih-alih
menjadi pemubaziran anggaran saja (Kompas, 28 Januari 2005).
Mending dialokasikan ke pendidikan yang bermutu dan mengurangi
disparitas kualitas akademis. Semisal menggratiskan jalur
pendidikan dasar, atau bebaskan uang buku, atau bikin sekolah
untuk korban tsunami Aceh. Berat ya? Memang.
Namun selalu ada solusi yang harus diperjuangkan.
Agaknya tiap oknum pemerintah masing-masing berlomba
menceburkan diri dalam alegori mikrofasisme. Tak bisa kah mereka
mengartikan makna yang benar dan mana yang salah?

Pasti banyak yang bilang ini akal-akalan institusi pengelola
negara saja, yang bertele-tele (kronis sekali!) mengurus pendidikan.
Bukannya menyembuhkan penyakit, ini yang terjadi malah menutup
gejalanya saja. Symptom apapun akan sangat mungkin berlanjut
ke stadium menjadi penyakit.

Seorang anak kecil, anak kita, ibarat harddisk yang masih longgar
free space-nya, bahkan sebagian belum selesai terformat,
adalah rahim dari segala bentuk intelektualitas manusia.
Dibawanya nanti semua pengetahuan itu hingga akhir hayatnya.
Berguna atau tidak, pengetahuan itu bakal menuntun dia berjalan
ke segala penjuru mata angin. Dan saya tegaskan lagi itu semua
jenis intelektualitas, bukan hanya nilai 9 matematika di rapor
mereka yang membanggakan itu. Membanggakan guru dan
institusi kesekolahannya, parameter kepintaran macam apa itu?!.
Dan ironisnya orang tuapun senang jika anaknya masuk sepuluh
besar, paling tidak sekolah lah. Atau juara cerdas cermat
ilmu-ilmu eksak dengan tambahan hafal kepanjangan dari
ipoleksosbudhankamnas. Wakakaka! Dan lucunya,
dalam tataran SMA dimana penjurusan mulai ada, yang kebagian
A3 (Sosial) atau A4 (Bahasa)--maaf ini merujuk zaman saya mbeling
saat sekolah dulu--tidak mendapat porsi perhatian lebih.
Guru lebih suka muridnya jago menghitung derajat panas,
bukan mendidik tenggang rasa. Anak didik lebih terkesan kehebatan
angka-angka, daripada tajamnya kata-kata. Yang pandai main band
dianggap urakan. Tapi yang bisa berorganisasi dimentahkan
begitu saja. Ujung-ujungnya nih, yang lulus jadi insinyur dielu-elukan.
Namun yang mati-matian menyelesaikan jenjang Seni dilecehkan.
Yang kerja dikantoran dianggap hebat. Tapi yang berprestasi
di sektor olahraga dilupakan. Dan anak tiripun bakal kelihatan
di mana-mana, bahkan di antara teman-teman kita sendiri.
Semacam elongasi yang sangat lebar. Bukan faktor pilihan saya rasa,
namun banyak faktor x yang fatalis terhadap pilihan itu. Menyedihkan.
Dulu, dosen saya pun lebih penting berproyek ria daripada mengasuh
mahasiswanya. Begitulah, banyak yang bisa mengajar
namun belum tentu bisa mendidik. Banyak yang pintar
namun jarang sekali yang bijaksana.

Padahal, diversifikasi intelektualitas manusia kalo bisa dihargai,
akan berkembang ke muara yang banyak ikannya, memberi
kehidupan pada semua apa yang hidup di dalam muara itu.
Nah kalo pernghargaannya timpang, bisa jadi akan lebih banyak
Dr. Jackyll & Mrs. Hyde di luar sana, di sekeliling kita,
yaitu orang-orang yang frustasi akan kemampuan dirinya sendiri,
yang mengandalkan kekerasan, produk kegamangan sosialnya.
Autistik (baca=sifat autisme) yang tak berkesudahan.

"Berhadapan dengan dunia objek yang semakin complicated,
anak-anak hanya (dikondisikan) untuk mengidentifikasi diri mereka
sebagai pemilik, sebagai pemakai, tidak sebagai pencipta;
ia tidak menemukan dunia, ia hanya menggunakan dunia yang
dirancang untuk mereka, tak ada pengembaraan, tak ada
keajaiban (wonder), tak ada keriangan. Ia hanya menjadi pengguna
yang tidak harus menemukan sebab-akibat; mereka hanya
disuguhkan ready-made... mereka tidak diberi peluang untuk
menemukan sesuatu dari permulaan sampai selesai."
(Roland Barthes; Mythologies)

Seperti kata rekan saya pencinta warna biru: anak kecil memang
lucu, dan akan tetap menyenangkan sampai mereka dewasa
jika kapasitas mereka tetap dihargai. Bukan begitu?

Pada akhirnya kalo toh memang terlalu keras tembok kegilaan
orang-orang pemerintahan, jalur alternatif bisa menjadi pilihan.
Paling tidak institusi macam Masyarakat Peduli Pendidikan
Indonesia
atau Lembaga Advokasi Pendidikan (LAP)
musti lebih merapatkan barisan, persiapkan segala sesuatunya.
Saya masih percaya bahwa pendidikan masih menjadi diskursus
utama dalam mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Mosok saya sendirian yang musti mengasah pedang dan
membunyikan genderang 'perang'?

Mari berjuang untuk blue-print otak yang lebih baik!

---

Minutes seem like days
Corrosion fills the sky
Morbid dreams of anarchy
Brought judgement in disguise
Memories linger in my brain
Life with nothing more to gain
Perpetual madness remains
-SLAYER, "Skeletons of Society", Season in the Abyss, 1990

Friday, February 04, 2005

Lagi Dicari: Teman Kala Bertahan.

Jalan-jalan ke pertokoan, tempat ekonomi papan atas berputar,
seringkali membiaskan makna bagi saya. Semacam dualisme
yaitu ikut arus dan lawan arus. Dan multipurpose knife ini
salah satu contohnya. Tidak bermaksud membandingkan merek
antara Leatherman, Victorinox, ataupun Timberland
(weleh! kok saya masih membeli brand juga sih??? WARNING:
Intruder Alert! a virus called CAPITALISM detected! :D)
saya berkeinginan mendapatkannya, entah dengan membeli atau
menjarah (hehehe..gak ding!). Buat apa sih? ...
hmm jelas berguna bagi carpenter macam saya ini.
Lumayan mengganti balisong saya yang telah lenyap. :D



So please if somebody can support me, hehehe.....
Pisau ini seharga gaji saya sebulan. Masak mau kredit?
Asongan (
>>) aja gak mau pake sistem itu.

Membentangkan Cakrawala 2

Sesekali saya mencoba berhadapan dengan keberhasilan, dimana
saya merasa nyaman 100%. Sebuah pencapaian dari kepayahan,
dengan bayaran kerja pikiran dengan segenap konsentrasinya yang
luarbiasa... terhadap sesuatu yang SEMU? Ndak juga.



Semestinya saya bisa merasakan kehadiran apa yang hakiki,
yang seringkali ditemukan di dalam relung-relung terowongan cacing
di belantara kenisbian. Mungkin sulit sekali dikatakan, bahwa
penemuan yang hakiki tadi berhasil saya ambil dengan cara yang
luar biasa melelahkan. Sembari terpaksa berjalan di dalam rimba
yang tiba-tiba ada mengelilingi saya, menutupi kehadiran saya,
bahkan sejak kali pertama saya menghirup apa yang dinamakan
sebagai udara.

Terus bergulat memang demikian. Lahir kemudian tumbuh, lalu
mengalami transformasi dari sekedar fisik (tubuh ini, daging ini)
mengarah ke psikologis-spiritual. Bukan cuma saya tentunya.
Siapapun telah terlahir dalam rahim kefanaan realitas.
Muncul dalam kondisi yang lemah. Minoritas. Sesekali buta.

Saya menyebutnya rimba. Dan seperti halnya belantara,
di dalamnya jelas mengandung anggota yang mensyaratkan
terjadinya rimba. Seperti pepohonan, rimba ini pun mempunyai
tiang-tiang nan kokoh berupa ideologi-budaya, sekaligus
mewujudkan fondasi multirealitas rimba itu. Jika mau berjalan
lebih ke dalam akan ditemukan kanopi-kanopi yang terbentuk
dari pohon-pohon yang berjenis rimbun dan lebat, menaungi
kelompok-kelompok kecil bernama gaya hidup. Tak jarang pula
di dalamnya berjuta-juta helai ilalang menciptakan semak belukar
tempat bercokol 'ular-ular' yang mematikan. Barbarisme level bawah.
Batu-batuannya terselimuti lumut yang sering membuat terpeleset
manusia-manusia yang kuat pikir kuat rasa. Serta sungai-sungainya
berbuih panas, racun yang menggelegak, menggerojok sangat deras.
Jika mau menjauh sedikit untuk melihat lebih luas, bisa disaksikan
terbentuknya cluster-cluster pembentuk mainstream budaya.
Ada sistem pencaplokan terselubung. Ada juga kegairahan purba
semacam pembunuhan dan pemerkosaan paling biadab.
Pembantaian di sana-sini. Saling gasak. Yang bermodal kuat
akan selalu mendominasi mengintimidasi. Primordialisme! Aha!
Bisa jadi binatang-binatang penghuni rimba ini ada yang obviously
100% terlahir cacat pikir cacat rasa, tumbuh besar menjadi
binatang yang sesungguhnya. Monster kah? Mungkin sekali.
Dan yang mayoritas terlahir bersih, tumbuh berkembang setingkat
dengan binatang-binatang itu. Saya kadang berpikir, dari mana
binatang-binatang tersebut belajar mempengaruhi manusia ya?
Tergiur akan kemulusan, mengkilapnya, kesempurnaan 'barang' yang
disodorkan, tak kuasa membendung liur yang menetes dari otak
dan hati manusia. Jubah kengerianpun dilepas. Telanjang. Rapuh.
Semu? Hampir semuanya!

Sedemikian hingga apabila kita mencoba keluar dari rimba tadi
dengan terpaksa sekali saya katakan mustahil. Mengapa?
Sebab lubang-lubang 'kemurnian yang seutuhnya' sudah disumbat.
Tertelan Bumi dan memaksanya hidup dalam kegelapan,
di bawah belukar rumput liar, terinjak-injak akar pohon ideologi.
Mana mampu membendungnya, ketika manusia yang banyak
berevolusi menjadi hewan (bahkan buas) tadi telah malas untuk
sering-sering turun ke Bumi. Membumi.
Ini hutan bisa-bisa isinya setan semua. SETAN!
Yang ada hanya proses pengkerdilan serta artifisialisme, yakni
gemerlap permukaan. Kulit yang meradang. Penampilan palsu.
Kostum yang memabukkan. Kelewat batas! Intensitas tinggi!
Di sana, wilayah tidak lagi mendahului peta, tidak juga
mempertahankannya. Mulai kini, adalah peta yang mendahului
wilayah (precession of simulacra)!

"Simulakrum bukanlah tiruan yang berderajat rendah.
Ia memiliki kekuatan positif dengan menolak yang asli dan
yang tiruan, model, dan reproduksi. Simulasi adalah alam khayal
itu sendiri, yaitu efek dari befungsinya simulakrum sebagai
sebuah mesin--mesin Dionysus. Ia melibatkan yang palsu
sebagai kekuatan, yakni kekuatan Pseudos.

(Gilles Deleuze; The Logic of Sense; 1990 hal. 263)

Dan keberhasilan yang saya nikmati tadi jarang sekali berpijak
pada hakiki. Yang murni dari melihat kepingan kebenaran.
Ya! (sekali lagi) terpaksa hidup dalam rimba kehampaan.
HORROR VACUI. Lantas, Anda demikian kah? Serapuh saya?
Atau, justru jauh lebih rapuh? Meremah? Jadi santapan empuk dong!

Keterpaksaan yang terus menjejal tersebut bagi saya
begitu menakutkan. Sepertinya kesalahan yang diwujudkan terus
menerus akan menjadi sebuah kebenaran...

---

Di atas tadi intermezzo saja. Lupakan, dan anggap tak pernah
Anda baca (atau malah dipahami? ya silakan saja). Lagipula
juga sering dibahas oleh banyak orang. Basi? Nggak tuh!
Mending cari jalan keluar, bisa dengan ke puncak pohon yang
paling tinggi untuk melihat horizon yang lebih luas.
Bisa juga jalan-jalan lebih masuk ke dalam rimba,
menemukan sesuatu yang berguna buat suplai bahan bakar
otak dan jiwa.

Karena globalisasi (>>) telah berurat akar. Terlebih lagi
gaya hidup posmodern sudah hinggap dan menetap di dalam
tempurung kepala, mengganti warna darah menjadi hitam dan
substansi oksigen dengan amoniak.
Udah gitu, kita suka makan racun tikus pula :D

"What is postmodern culture? Postmodern culture is the blurring
of lines between what is real and what is simulated,
it the ever increasing intextuality of our lives -
the inextricable binding of the media, mass culture and daily life.
In postmodern society there is "an incredulity towards
meta narratives" (Lyotard 2004) "and truth is what we invent,
not what we discover" (Spender 2004). Postmodern culture is
present in every Westernised society, its relevance is global;
American society and culture provide excellent examples of
the extent to which postmodern culture exists but it is not alone
in postmodernity."

(Post-Modern Outside America; 2004)

Saya tidak mau bermalas-malasan menghadapi kemunduran ini.
Mungkin bisa saja kita kolektif membangun jaringan alternatif
untuk mengoyak jubah tatanan dunia baru itu. Kalo hanya
sekedar mencari selamat sendiri, tidak mungkin kuat.
Harus kolektif. Harus agresif. Fight Fire With Fire! hahaha....

Apa mau dikata, membentangkan cakrawala pengetahuan
sangat sulit diwujudkan. Ibarat kapas, jika terlalu tua atau
prematur, akan mudah terhembus angin, tercabut dari kelopak
induknya. Menjejak kuat ke tanah sembari melihat ke segala arah
mungkin hanya milik manusia-manusia yang beruntung. Ya,
saya katakan demikian karena mereka mampu melongok hidupnya
dalam tataran tinggi, sangat kaya dengan pengalaman,
fisik maupun filosofis dan spiritual. Mereka benar-benar merindukan
kebenaran yang seringkali sangat sulit didapatkan, walau dengan
mengais 'kebenaran-kebenaran' dari pohon-pohon ideologi tadi.
Budaya dan dogma begitu pula. Manusia-manusia beruntung itu
menasehati bahwa kebenaran itu bukan permasalahan dogma,
tapi permasalahan perluasan wawasan tanpa henti.
Perbekalan utamanya tidak cukup dengan sebilah pedang
bernama filsafat saja tentunya, walaupun hipotesis filsafat itu
bersifat abadi. Pengalaman dari 'pertengkaran' filosofis sepanjang
sejarah manusia pun bisa dijadikan rujukan.

Jika wilayah realitas murni memang lebih luas dari wilayah filsafat,
Saya pikir menjadi kreatif-eklektik-kritis adalah pondasi kuat
mewujudkan dehiperealitas!, sebuah kondisi pemurnian realitas
dari efek-efek representasi yang berlebihan, superlatif, ekstrim,
dan melampaui, sehingga tercipta hubungan yang lebih simetris
antara representasi dan realitas murni.

Saya tetap terus menelusuri jejak realitas murni itu, mencoba
menemukannya. Semoga mampu sebelum saya mati.

---

(saya merasa rindu untuk jalan-jalan ke perbukitan dan pedalaman
lagi sepertinya. Ngidam hangatnya menikmati kopi di lereng gunung
di pagi hari, ngida ngisep kreteknya juga. Namun, sekali lagi
saya terikat waktu! Gila!
berani-beraninya waktu melakukan hal itu
pada saya!)



---

"Nature reacts not only to physical disease,
but also to moral weakness;
when the danger increases,
she gives us greater courage."

-Johann Wolfgang von Goethe


Tuesday, February 01, 2005

Buatlah Kenangan Yang Menyenangkan

Sudah senin lagi rupanya. Kejemuan terasa tanpa bertepi.
Selalu saja ada kengerian di antara optimisme. Peristiwa yang
menjadi makanan sehari-hari sebagai buah simpul rentangan
tali waktu yang berpilin, dirasakan makin rumit. Padahal kemarin
2 hari yang merelaksasi. Kurang cukup, tadi pagi bangun jam 11
siang (pagi apa siang sih? :). Dan sore tadi tempat kerja mendadak
santai sekali karena koneksi internet putus. Aha!



Mari sebentar melongok sejarah (>>). Syahdan, dahulu kala,
waktu bukan menjadi bagian terukur dari alam semesta yang
kita amati. Ide Nicolaus Copernicus (1473-1543) yang
revolusioner tetap saja tidak mengikutsertakan aktor utama kedua
yang bernama waktu. Ketika matahari terbukti menyandang gelar
heliosentris, konsep mengenai waktupun tak pernah tersinggung.
Dianggap ada namun tidak terdefinisi dengan baik (indefinite period).
Kinerja alam semesta memanglah demikian, mewujud atau menjasad
serangkaian silogisme yang mengantar kita dari contoh-contoh
khusus (particular instances) pada kesimpulan-kesimpulan umum
(general conclusions) terhadap peristiwa (event). Baru menjelang
kemajuan sains yang lebih terstruktur pada masa Renaisans di barat,
waktu menjadi tokoh sentral (saya kaitkan konsep waktu adalah
yang terumuskan ini oleh ilmuwan maupun filosof barat, jatah
timur-tengah dan peradaban lain nanti dulu). Dan menjadi inspirasi
bagi para penulis untuk memainkan waktu dengan kaidah liniernya
ataupun mencoba memutarbalikkan peristiwa rekaannya.

"Time was, like space, a conceptual apparatus describing interrelations
between events." (Isaac Newton +
Gottfried Wilhelm von Leibniz)

Terus terang saya sendiripun masih bingung dengan hakikat waktu.
Ilmuwan barat yang terkadang melampaui batas juga sudah sekian
ratus tahun mempelajari eksistensinya. Masa demi masa terjadi
perbaikan dan penemuan baru mengenai kesepakatannya. Seorang
astrofisikawan kondang Stephen Hawking (1942-) berpendapat
tentang waktu (A Brief History of Time) sangat terpengaruh
dengan gagasan persepsi ruang-waktu Albert Einstein (1879-1955).
Dan perdebatan sengit (kisah 2 buah kurma) antara ilmuwan sekaligus
filosof muslim Al-Ghazali (1058-1111) dengan filosof Spanyol
Ibn Rusyd (Averroes, 1126-1198) juga teramat penting untuk
dilewatkan begitu saja, mengingat wacana tentang eksistensi Tuhan
(sekali lagi saya mengambil sudut pandang Barat) juga adalah bagian
dari pembahasan dunia filsafat.

(Einstein said, "Put your hand on a hot stove for a minute,
and it seems like an hour. Sit with a pretty girl for an hour,
and it seems like a minute. That's relativity
.".)

Begitulah konsep dalam sains. Dan akan berbeda ketika filsafat
memaknainya. Filsafat bertanya, apakah waktu itu absolut atau
semata-mata relasional? Pernyataan demikian membatasi kita
dengan hakikat alam (baca=dimensi ruang), dimana pada hakikatnya
alam merupakan serangkaian peristiwa yang terjadi dalam waktu.
Katakanlah waktu adalah wadah (the container of events).
Dan karena alam bersifat fana, demikian juga waktu. Jadi,
kemungkinan besar waktu (time itself) tidak akan bisa terukur, namun
dia teramati dalam sistem pengukuran yang menjelaskan peristiwa.

Terkadang saya juga heran dengan kesepakatan (semoga sementara)
para ilmuwan mengenai konsep jarak-waktu dalam mengamati
fluktuasi alam semesta. Misalkan bagaimana mungkin sebuah galaksi
yang paling jauh (katakanlah yang terakhir terobservasi adalah
sekitar 15 miliar tahun cahaya) mengirimkan informasi eksistensinya
lewat pancaran sinarnya sekitar 15 miliar tahun yang lalu.
Begitu juga obyek kosmos lainnya yang agak-jauhan atau
kurang-jauhan. Seperti kita semua tahu bahwa cahaya memang
terbatas kecepatannya. Cahaya yang melintas sedemikian cepat pun
akan sangat kecil dibanding dengan jarak dalam skala kosmos.

Haruslah ada kemungkinan memahami jarak tidak dengan waktu.

Dengan demikian apa gunanya kehadiran mereka jika SAAT INI
barangkali sudah tidak eksis di posisinya. Pengukuran yang dilakukan
akan menjadi sia-sia, sekedar akan memenuhi jurnal di kalangan
cendekiawan, kah? tidak menjadikannya bentuk kesadaran akan
sebuah eksistensi ruang-waktu yang komprehensif.
Bagi saya apa yang saya lihat ketika malam cerah di langit adalah
mereka aktual di posisinya, SEKARANG, bukan masalah waktu,
tapi Persepsi.

Pelbagai esensi (semoga bisa saya bahas nanti) alam tidak saling
berhubungan. Yang sebenarnya berkaitan adalah obyek-obyek yang
ada secara aktual. Dan peristiwa-peristiwa yang terjadi adalah akibat
dari peristiwa-peristiwa yang lain, walaupun terkadang KELIHATANNYA
tidak saling mempegaruhi. Karena tidak ada yang kebetulan
di dunia ini maka sensitivitas membaca pertanda adalah perlu.
Pergerakan yang tercipta (baca=peristiwa) secara berkesinambungan
berlangsung sepanjang masa sehingga tidak ada sesuatu yang sama
pada saat berbeda. Hal ini saya pikir menggagalkan konsep
reinkarnasi, karena saya pribadi pun tidak menemukan dasar logis dari
fenomena itu. Pergerakan yang demikian adalah sifat dasar semua
ciptaan (mahkluk) dan secara naluriah senantiasa bergerak
ke aras-aras yang lebih tinggi. Jadi dari sudut pandang ini,
waktu hanya menyerupai karakteristik ruang.
Kita cenderung menandai (to identify) beragam benda dalam
imajinasi kita untuk kegunaan pemahaman kita sendiri. Namun
pada kenyataannya, saat mengabstraksikan objek tertentu,
pada saat itu pula objek tersebut dalam perubahaan yang malar,
karena dia selalu bergerak dalam waktu. Dengan demikian,
yang kita anggap sebagai benda sebenarnya hanyalah gerakan.
Dan waktu adalah ukuran perubahan malar itu, bukannya sebagai
dimensi lir-ruang yang menaungi perubahan.
Itulah konsep ihwal hakikat waktu bagi saya sementara ini,
sebuah gagasan yang mendekati sempurna. Dan kemungkinan ini
akan terus mengalami perubahan dalam kualitas pemberian makna,
sehingga saya tidak akan terkilir dan terperosok ke dalam
singularitas waktu. Serem soalnya. :P

Pemikiran Mulla Shadra (1572-1640) inilah yang konsisten
dengan konsep diri filosof Muhammad Iqbal (1877-1938).
Waktu itu ibarat perasaan kita selama merenung,
tatkala segenap realitas akan terlihat dalam wujud yang
hadir pada waktu bersamaan. Dalam perenungan, kita akan
merasakan bahwa segala sesuatu yang kita anggap bergerak
akan tiba-tiba diam, seolah waktu tidak hadir.
Ya! Setidaknya secara prinsip, hal itu dapat kita gapai melalui
pengembangan spiritual kita untuk menerima dan memahami
pengalaman semacam itu. Semacam menaikkan frekuensi diri
dalam periode evolusi manusia.

Intensitas kemandirian seseorang pun bisa dilihat dari kualitas memori
dirinya, ketika berusaha membuat pengalaman yang baru, ya minimal
mengalami pengalaman yang edukatif di masa lalunya (causes and
effects
). Dan jalan yang ditempuh memanglah eklektis, secara waktu
dan ruang. Tidak seorangpun memang yang menginginkan
kemunduran, bahkan kematian. Dan sejarah pun sebenarnya
bisa direkayasa, dan kemungkinan besar juga dapat terulang.
Saya bisa melihatnya di kasus konspirasi pendaratan manusia pertama
di bulan oleh Neil Armstrong dkk pada Juli 1969.
Pembungkaman yang demikian sah-sah saja. Lha wong eklektik kok.
Toh, realitas akan tetap realitas. Mau ngomong apa?

Ha! Lagi pula kegagalan saya mengerjakan tugas akhir kuliah dahulu
juga menjadi sejarah yang bisa saya ambil hikmahnya.
Kegagalan tersebut adalah sebentuk kerangka pikir saya yang
terentang oleh waktu menjadi sejarah.
Dan saya akan selalu
mengingatnya!
Walhasil, sejarah psikologis yang tersimpan
dalam memori adalah fakta. Dan faktanya saya tidak puas, alias gagal.
Payah sekali saya! Ha ha ha...!
Makanya, pembekalan dalam mindset itu perlu.

Jadi ingat film THE FORGOTTEN kemarin malam. Tapi konklusi akhirnya
kok jadi aneh ya? Lho, lagian ngapain saya bahas?
Gak nyambung deh blarr!

Sekiranya sama seperti keputusan rekan saya membobol kembali
peti rujukan seninya SEBELUM menyaksikan pameran seniman
posmo Amerika Jean-Michel Basquiat di Bali hari minggu kemarin.
Aha!

Makanya, buatlah sejarah yang menyenangkan! Karena gak ada yang
permanen di dunia ini. Semuanya punya waktunya masing-masing,
timbul dan tenggelam. Mending ikut harmoninya saja biar nanti
bisa ikut seneng. Yeeeaahhh!

(James Redfield punya gagasan bagus dalam novelnya
The Celestine Prophecy)



---

This thing all things devours:
Birds, beasts, trees, flowers;

Gnaws iron, bites steel,

Grinds hard stones to meal;

Slays king, ruins town,

And beats high mountain down.
- J.R.R Tolkien