&t /// JELAJAH BELANTARA ///: December 2004

Tuesday, December 28, 2004

Semuanya Dimulai dari ALAM.

Turunnya hujan bisa menjadi berkah.
Turunnya berkah menyuburkan jiwa.

dan seorang Emil Salim memberi inspirasi bagi saya.


Seperti identitas blog ini JELAJAH BELANTARA,

karena saya memang dibesarkan di kedalaman makna belantara.


- - -

MENCARI KEARIFAN MASA LALU


Di Lahat, sebuah kota kecil di pinggir sungai Lematang, Sumatera Selatan saya masuk sekolah dasar. Di sekeliling kota masih tumbuh hutan lebat. Dan pohon duren tumbuh bebas di pinggir jalan dan dalam hutan. Tiap kali sehabis hujan deras dengan angin kencang, bersama teman-teman kami masuk hutan mencari buah duren yang banyak berjatuhan ditimpa angin.

Pada tiap hari Sabtu guru kelas saya di Sekolah Dasar suka mengajak murid-muridnya berjalan-jalan masuk hutan, di kaki bukit Serelo yang tersohor di daerah. Sambil berjalan di hutan, guru menjelaskan berbagai peranan pacet penghisap darah manusia, yang rupanya juga berguna bagi manusia sebagai penunjuk arah matahari karena sifat kepala pacet selalu mencari kehangatan. Dan dengan mengetahui letak arah matahari, sekaligus kita memiliki kompas alami penunjuk jurus Utara-Timur-Barat-Selatan. Guru juga mengajak muridnya belajar "minum madu" dari sejenis bunga sebagai pengganti air bila kita tersesat. Dan mencari sisa makanan beruk di tanah untuk memperoleh petunjuk jenis buah mana bisa dimakan manusia. Karena apa yang bisa dimakan monyet dapat pula dimakan manusia. Dan sambil bertualang guru bercerita tentang hutan sehingga dalam alam fikiran saya hutan itu menjadi buku pembuka rahasia alam.

Secara selang seling pada hari-hari Sabtu berikutnya guru membacakan buku pada jam pelajaran terakhir. Guru pandai membawakan suaranya sehingga pelaku dalam buku terasa hidup. Guru suka membacakan isi buku Karl May menceritakan petualangan Old Shatterhand dengan kawan karibnya Winnetou, kepala Suku Appachen. Tetapi guru saya ini cerdik. Ia mengambil adegan dalam bab yang mengasyikkan dan seru. Pada sa'at cerita mencapai klimaksnya dan Winnetou tertembak lalu guru berhenti membaca dan mempersilahkan kita membaca sendiri. Bisalah dibayangkan bahwa kita berebutan mencari buku, tidak saja dalam perpustakaan sekolah tetapi juga di toko-toko buku.

Akibat pengaruh gurulah saya menjadi "kutu buku" membaca semua buku karangan Karl May dan mengenal tokoh-tokoh Old Shatterhand, Winnetou, Kara-ben-Nemsi dan lain-lain. Lalu bersama teman-teman di waktu libur kita menjelajahi hutan di sekitar Bukit Serelo dan sepanjang sungai Lematang untuk berlaku-gaya sebagai Old Shatterhand. Daging semur dari dapur kita bungkus untuk dipanggang di hutan meniru gaya para Indian membakar daging. Kami bikin tanda-tanda sepanjang jalan yang dilalui agar tidak sesat di hutan nanti.

Kami mencoba menghidupi daya khayal cerita bacaan menjadi kenyataan. Dan hidup terasa begitu tenteram mengasyikkan. Karena benang merah yang ditonjolkan dalam buku-buku Karl May adalah "kedamaian, keikhlasan, keadilan, kebenaran dan ketuhanan."

Setelah selesai saya membaca buku "Kematian Winnetou" saya termenung dan air mata meleleh. Alangkah agungnya pribadi Winnetou, kepala suku Indian Appachen ini.

Puluhan tahun kemudian, ketika saya ditugaskan mengembangkan lingkungan hidup di tanah-air, ingatan pada cerita Karl May bangkit kembali. Hutan tidak lagi dilihat sebagai obyek pengusaha HPH, tetapi sebagai "rumah besar" bagi segala makhluk yang hidup. Maka terbayang di mata saya peranan pacet, bunga pemberi madu, monyet dll. Terpampanglah keterkaitan antara hubungan manusia dengan hutan sebagaimana tergambarkan pada besarnya peranan hutan bagi Winnetou dan suku Apachennya.

Tapi hidup di abad "modern" telah "memakan" hutan alami untuk disubstitusi dengan "hutan buatan manusia." Namun bisakah "hutan buatan manusia" ini masih menumbuhkan keterkaitan akrab antara manusia dengan alam-buatan ini? Akan mungkinkah "kedamaian, keihlasan, keadilan, kebenaran dan ketuhanan" ini ditumbuhkan dalam hutan buatan manusia? Akan mungkinkah tumbuh sosok tubuh seperti Winnetou yang mempersonifikasikan berbagai ciri-ciri kehidupan asri ini?

Dalam bergelut dengan tantangan permasalahan ini, ingatan saya kembali pada "dunia alamnya" Old Shatterhand, Winnetou dan Kara-ben-Nemsi. Mencari kearifan di masa lalu untuk bekal menanggapi tantangan masa depan. (15 September 2000)

Emil Salim.

---

"Alam terkembang menjadi Guru."
-A.A Navis


Innalillahi wa innailaihi rojiuun

Selamat Siang.

Mencatatlah Nikk!

Pertama sekali,
belasungkawa
sedalam-dalamnya

terhadap korban gempa dan tsunami Aceh.
Hari minggu pagi sekitar 7:53,
... ah saya termasuk yang telat mengikuti beritanya.
Yang jelas bersamaan aku mengubah layout kamar kost dini hari itu,
gara-gara seonggok rak buku baru datang dan
meminta sepetak lahan di kamar.
Dan juga bersamaan lagi dengan lahirnya blog ini.
Sesuatu yang amat baru bagi saya,
baru yang menyenangkan sekaligus ditandai dengan
kepahitan yang amat sangat.

Entahlah apa yang terjadi di sana.
Sungguh mengerikan bagi saya.
Aceh, Thailand, Srilanka, India, bahkan hingga Kenya di benua Afrika,
ikut merasakan amukan laut,
yang seakan kiamat bagi mereka!

Lihat, negara-negara dan teritori miskin... dan bergejolak.
Hanya karena satu penumpang melubangi kapal dan
penumpang yang lain tidak mencegahnya, maka dipastikan
kapal akan tenggelam, membinasakan semua.
Ironi sosial apalagi sekarang?
Mau nanya dosa apa yg telah diperbuat manusia?
Jawaban semestinya adalah entah mereka berdosa atau tidak,
azab Tuhan adalah kenyataan yang paling nyata.
Kita telah sampai di titik kesombongan.
Seketika itu pula alam menjawabnya.
Mungkin saya juga termasuk di dalamnya.
Harapan akan sia-sia ketika peringatan Tuhan itu datang.
Lihatlah, lebih dari 20.000 nyawa padam di luar sana!!!

Sesungguhnya di dalam doa selalu ada harapan.
Saya tetap tersayat. Sangat pedih!
Saya tetap tergerak untuk sebisa saya membantu mereka.

Selalu.

----

Kebaikan akan selalu datang dari Allah Tuhan semesta alam,
dan manusia yang akan menanggung keburukan mereka sendiri.





Monday, December 27, 2004

Bismillahirohmanirohiim

Selasa Dini Hari.
01:00:00

Teng!
Keyboard.
Tuts yang menari-nari.
Tik tak tik tak.
Huruf berlalu kata hingga gagasan.
Arang.
Atau pahatan.
Seperti halnya mereka yang menandai wujud sejarah.
Hanya saja kali ini saya mulai membudayakan mencatat.
Bismillah.